Sumenep, Globalindo.net – Program Makan Bergizi (MBG) yang dijalankan melalui Dapur Yayasan Alif Batuputih Desa Pabian, Kabupaten Sumenep, kembali menuai kritik. Sejumlah guru dari sekolah mitra program tersebut menyampaikan protes terhadap menu MBG yang dinilai terlalu sederhana, minim porsi, dan tidak mengenyangkan bagi siswa.
Menu MBG yang dipersoalkan terdiri dari empat potong ayam berukuran kecil, lima potong kentang, daun kol putih, beberapa irisan wortel, potongan kecil semangka, serta saus tomat. Para guru menilai susunan menu tersebut tidak sebanding dengan tujuan awal program pemerintah yang dirancang untuk memenuhi kebutuhan gizi anak sekolah.
Salah satu guru sekolah swasta di wilayah Kota Sumenep berinisial RF mengungkapkan kekecewaannya dengan nada sindiran. Ia menilai menu tersebut tidak mencerminkan pola konsumsi masyarakat Indonesia, khususnya anak-anak sekolah.
“Orang Indonesia itu kalau tidak makan nasi, ya tidak makan. Faktanya bisa dilihat sendiri menunya seperti ini. Selamat korupsi berjamaah,” ujar RF, Jumat (23/1/2026).
Selain menyoroti kebiasaan makan, RF juga mempertanyakan nilai ekonomis menu MBG tersebut. Berdasarkan perhitungan harga pasar, menu tersebut diperkirakan hanya bernilai sekitar Rp3.000 hingga Rp5.000 per porsi.
“Dengan lima ribu rupiah, beli sayur sop di pasar justru lebih banyak, lebih mengenyangkan, dan kemungkinan gizinya lebih baik. Bahkan bisa dapat tiga kali lipat dari menu ini,” tegasnya.
RF mendesak pemerintah pusat bersama Badan Gizi Nasional (BGN) untuk melakukan pengawasan ketat terhadap pelaksanaan Program MBG di daerah. Menurutnya, tanpa pengawasan yang serius, program yang seharusnya berpihak pada kepentingan anak berpotensi melenceng dari sasaran.
Sementara itu, Kepala Dapur MBG Yayasan Alif Batuputih Desa Pabian mengakui bahwa menu tersebut merupakan produksi dapurnya. Ia menyebut porsi tersebut termasuk kategori porsi besar untuk jenjang SMA dan mengklaim telah memenuhi standar gizi serta besaran harga yang ditetapkan.
“Menu tersebut sudah memenuhi standar gizi, dan besaran harga sudah sesuai, yakni Rp10.000 per porsi. Hal ini juga sudah kami sampaikan kepada Babinsa,” ujarnya kepada media.
Namun, klaim tersebut berbeda dengan hasil analisis kalori yang disampaikan oleh seorang mahasiswa kesehatan yang turut mengkaji menu MBG tersebut. Berdasarkan perhitungan sederhana, total kandungan energi menu tersebut dinilai belum mencukupi kebutuhan kalori anak sekolah.
Adapun taksiran kalori menu tersebut meliputi:
Ayam kecil: sekitar 50–70 kkal
Kentang dan sayur: sekitar 40–60 kkal
Saus: sekitar 15–25 kkal
Potongan semangka: sekitar 10–15 kkal
Dengan demikian, total kalori menu MBG tersebut diperkirakan hanya berkisar 115–170 kkal. Padahal, kebutuhan kalori anak sekolah sesuai standar gizi berada pada kisaran 400–600 kkal per porsi.
Perbedaan mencolok antara klaim pihak dapur dan hasil analisis gizi ini semakin menguatkan tuntutan para guru agar pemerintah melakukan evaluasi menyeluruh terhadap operasional MBG Yayasan Alif Batuputih. Berdasarkan informasi dan penelusuran media, terdapat sekitar empat dapur MBG di wilayah Kota dan Kabupaten Sumenep yang diduga belum sepenuhnya memenuhi petunjuk teknis (juknis), namun tetap beroperasi.
Sementara itu, Holilur, Koordinator Wilayah MBG Kabupaten Sumenep, hingga berita ini diturunkan belum memberikan tanggapan. Upaya konfirmasi yang dilakukan media ini tidak mendapatkan jawaban.”
Pewarta: HR












