GARUT, Globalindo.Net – Sebanyak ratusan siswa dari beberapa tingkat pendidikan di Kabupaten Garut, Jawa Barat, mengalami dugaan keracunan massal yang diduga akibat mengonsumsi menu Makan Bergizi Gratis (MBG) yang dibagikan di sekolah-sekolah mereka.
Tercatat sekitar 657 siswa mengalami gejala keracunan, dengan sebagian besar gejala ringan berupa mual, muntah, dan pusing. Dari jumlah tersebut, sekitar 30 siswa harus mendapatkan perawatan intensif di Puskesmas Kadungora, dan 10 di antaranya masih dirawat.
Menu MBG yang diduga menjadi penyebab keracunan, yang disalurkan dari dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di Kab.Garut.
Sampel makanan sudah dikirim ke laboratorium provinsi Jawa Barat untuk uji laboratorium dengan hasil yang masih menunggu keputusan.
“Kasus keracunan ini tidak hanya terjadi di Garut, tetapi dilaporkan juga terjadi di wilayah Tasikmalaya, Kabupaten Bandung, dan Cianjur, yang menunjukkan gejala serupa akibat konsumsi MBG”.
Pihak berwenang setempat melakukan penyelidikan dan pengawasan lebih ketat terhadap distribusi dan kualitas makanan dalam program MBG untuk mencegah kejadian serupa.
Pemerintah daerah dan Dinas Kesehatan setempat bersama aparat kepolisian terus melakukan pemeriksaan dan memantau kondisi para korban, selain memperbaiki prosedur operasional standar (SOP) dalam pelaksanaan program MBG. DPR juga merekomendasikan keterlibatan orang tua dan pengawasan ketat terhadap kualitas makanan agar kasus keracunan tidak terulang kembali.
Sekda Provinsi Jabar, Herman Suryatman berjanji peristiwa-peristiwa tersebut menjadi bahan evaluasi menyeluruh, baik dari sisi kesehatan maupun manajemen pelaksanaan program MBG ini.
Kami sangat prihatin dengan kejadian di beberapa daerah di Jabar terkait dugaan keracunan MBG ini, dan ini tentu jadi pembelajaran dan harus diantisipasi dan dimitigasi ke depannya, tidak boleh ada kejadian serupa,” katanya kepada awak media, Jumat 19 September 2026 beberapa waktu lalu.
Menurut Herman, Kami sudah menugaskan Kadis Kesehatan untuk memeriksa mengapa bisa terjadi seperti itu sehingga bisa teridentifikasi penyebabnya. Itu menjadi catatan agar berikutnya semua SPPG harus menjamin kesehatan, dengan uji lab yang ketat, katanya.
Herman berjanji peristiwa-peristiwa tersebut menjadi bahan evaluasi menyeluruh, baik dari sisi kesehatan maupun manajemen pelaksanaan program MBG ini.
Herman juga mengatakan, Kami sudah menugaskan juga Dinsos Jabar untuk berkoordinasi dengan kabupaten/kota dan petugas BGN, SPPG untuk pengelolaan pengelolaan dapur di lapangan bisa optimal.
Kan ada perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi yang harus terkendali.
Ini yang akan kami perbaiki bersama, dari sisi kesehatan, manajerial, higienis dan pengelolaan harus dikelola sehingga berbagai ekses bisa diantisipasidan pengelolaan ke depan bisa lebih baik,” ujar Herman.
Herman menambahkan, Pemprov Jabar pun menggelar konsolidasi dengan berbagai pemangku kepentingan (stakeholder) terkait. Konsolidasi itu akan membahas kronologi, standar operasional prosedur (SOP), hingga mitigasi agar kejadian serupa tidak terulang.
“Intinya makanan MBG harus higienis dan pengelolaan harus terencana dengan baik dan benar. Menu MBG yang akan disajikan apa, Siapa yang memasak, Bagaimana mengelolanya,” bebernya.
Red












