JAWA TIMURSumenep

Laut Kangean Terkuras Kapal Porsen, Nelayan Hanya Bisa Menangis

363
×

Laut Kangean Terkuras Kapal Porsen, Nelayan Hanya Bisa Menangis

Sebarkan artikel ini

Arjasa, Globalindo.net – Sudah dua bulan terakhir, para nelayan di perairan Nyamplong Ondung, Desa Kalikatak, Kecamatan Arjasa, Kabupaten Sumenep, terpaksa menambatkan perahu mereka. Bukan karena cuaca buruk, melainkan karena ikan di laut semakin sulit didapat akibat maraknya kapal porsen yang beroperasi bebas.

Musa, salah seorang nelayan asal Dusun Nyamplong Ondung, mengaku perahunya kini hanya terparkir di tepi pantai. “Sudah dua bulan saya tidak melaut, karena hasilnya tidak sebanding dengan biaya. Cari ikan manual sangat sulit, laut seakan kosong,” ujarnya dengan nada getir, pada Kamis 22/8/2025

Kondisi serupa juga dialami Suki, warga setempat. Ia tak kuasa menahan perasaan saat cucunya meminta uang jajan. “Hati saya seperti teriris sembilu. Sudah berangkat melaut habis Rp100 ribu untuk solar, pulangnya hanya dapat ikan beberapa ekor. Dijual pun paling Rp10 ribu. Bagaimana tidak menangis kalau anak cucu minta uang sementara kami tidak punya?” ungkapnya.

Kini, yang tersisa hanyalah harapan agar pemerintah benar-benar mendengar jeritan rakyat kepulauan.

Padahal, menurut perhitungan nelayan, sejak 1993 hingga kini masih beroperasi, sungguh luar bisa satu kapal porsen diperkirakan mampu menguras minimal 2 hingga 4 ton ikan setiap malam. Jika ratusan kapal beroperasi, bisa dibayangkan berapa banyak kekayaan laut yang lenyap setiap harinya. Lebih ironis lagi, bukannya menjauh ke tengah laut, kapal porsen justru semakin mendekati bibir pantai, seolah tanpa aturan.

Buhari, mewakili masyarakat Nyamplong Ondung yang mayoritas berprofesi sebagai nelayan, menyuarakan kegelisahan serupa. “Kami takut kehilangan kesabaran. Kami bukan tidak bisa melakukan sesuatu hal yang tidak diinginkan, hanya saja kami berpikir panjang. Kami percaya masih ada pemerintah yang bisa mengatur semua ini,” tegasnya.

Para nelayan Kangean pun merasa jeritan mereka seakan tak terdengar. Mereka meminta aparat dan pemerintah turun tangan segera.
“Kepada Airut, jangan hanya fokus di perairan daratan, tolong datangi Kangean. Kepada Forkopimcam, tolong sampaikan aspirasi kami. Kepada Bupati Sumenep, lakukan ketegasan agar kami bisa kembali melaut. Dan kepada Ibu Gubernur Jawa Timur, kami mohon Airut diturunkan secara rutin untuk mengatasi persoalan ini. Kami nelayan sudah terlalu sengsara,” pinta para nelayan dengan suara bergetar.

Kini, yang tersisa hanyalah harapan agar pemerintah benar-benar mendengar jeritan rakyat kepulauan. Sebab jika laut terus dibiarkan habis terkuras, apa yang akan diwariskan untuk generasi Kangean kelak? Apakah hanya cerita pahit tentang laut yang pernah kaya, namun hilang karena dibiarkan tanpa aturan?

Pewarta : Yanto/HR