JAWA TIMURSumenep

Porsen Makin Nekat Dekati Bibir Pantai Nyamplong Ondung, Nelayan Kepulauan Menggugat Diamnya Pemerintah

365
×

Porsen Makin Nekat Dekati Bibir Pantai Nyamplong Ondung, Nelayan Kepulauan Menggugat Diamnya Pemerintah

Sebarkan artikel ini

Arjasa, Kangean – Laut yang seharusnya menjadi sumber kehidupan dan napas ekonomi bagi nelayan tradisional di Kepulauan Sumenep, kini semakin terancam oleh maraknya aktivitas perahu porsen. Jumat (15/8/2025), keluhan keras kembali bergema dari Dusun Nyamplong Ondung, Desa Kalikatak, Kecamatan Arjasa. Kali ini, nada suaranya bukan sekadar keluh kesah – melainkan seruan perlawanan yang tegas.

Buhari, nelayan setempat yang selama ini aktif menyuarakan keresahan warga, mengungkapkan fakta yang kian membuat hati para nelayan teriris. Perahu-perahu porsen kini tidak hanya beroperasi di perairan lepas, tetapi sudah semakin berani mendekati bibir pantai Nyamplong Ondung – wilayah yang menjadi ruang hidup nelayan kecil.

Porsen sendiri dikenal sebagai alat tangkap yang rakus dan merusak.

“Kami tidak akan berhenti bersuara sebelum ada tindakan nyata dari pemerintah. Jeritan nelayan kepulauan ini jangan lagi hanya dijadikan angin lalu. Kami butuh keberpihakan, bukan janji,” tegas Buhari, yang siang itu berbicara dengan nada campuran antara lelah, marah, dan kecewa.

Menurutnya, fenomena ini bukan hanya terjadi di Arjasa. Informasi yang ia peroleh dari sesama nelayan menyebutkan, perahu-perahu porsen juga bebas berkeliaran di perairan Sapeken, Masalembu, Sepudi, hingga Raas. Lebih mencengangkan lagi, jumlahnya di laut diperkirakan mencapai 40 hingga 80 kapal porsen. Semua itu terjadi seolah tanpa ada teguran, tanpa pengawasan, dan tanpa rasa takut kepada hukum yang seharusnya melindungi zona tangkap nelayan tradisional.

“Ini bukan sekadar masalah Nyamplong Ondung. Ini masalah seluruh nelayan kepulauan. Kalau dibiarkan, bukan hanya mata pencaharian kami yang hilang, tapi ekosistem laut juga akan rusak parah,” lanjut Buhari.

Para nelayan mengaku sudah lelah berharap pada janji-janji penertiban yang tak kunjung terealisasi. Mereka menilai pemerintah daerah hingga pusat belum menunjukkan sikap tegas. “Ketegasan pemerintah adalah harapan terakhir kami. Jangan tunggu laut ini habis, ikan menghilang, baru semua bergerak,” tegasnya lagi.

Porsen sendiri dikenal sebagai alat tangkap yang rakus dan merusak, karena menggunakan jaring berkantong besar yang menyapu habis berbagai jenis ikan, termasuk yang belum layak tangkap. Bagi nelayan kecil yang mengandalkan perahu kayu dan alat pancing sederhana, keberadaan porsen di wilayah tangkap mereka sama saja dengan ‘pembunuhan perlahan’ terhadap ekonomi keluarga.

Buhari menegaskan, perjuangan ini tidak akan berhenti. Nelayan Nyamplong Ondung siap terus menggaungkan persoalan ini, baik melalui media, forum-forum warga, maupun aksi langsung jika diperlukan. “Kami ini bukan mencari musuh. Kami hanya ingin laut kami aman, ikan kami ada, dan anak cucu kami masih bisa melaut,” tutupnya.

Kini, bola panas ada di tangan pemerintah. Apakah jeritan nelayan kepulauan akan dijawab dengan tindakan nyata, atau sekali lagi tenggelam dalam riuh ombak janji yang tak pernah sampai ke daratan?

Pewarta : Hariyanto