Globalindo.net II PAPUA – Hon Benny Wenda Presiden United Leberation Movement for West Papua (ULMWP), mengajak Dunia harus menunjukkan solidaritas terhadap West Papua sebab Kita tahu bahwa pandangan dunia saat ini tertuju pada Gaza dan peristiwa-peristiwa mengerikan yang terjadi di sana. Kita juga tahu bahwa dunia mendukung Ukraina dalam perlawanan mereka terhadap invasi Rusia. Namun masyarakat harus memahami bahwa apa yang terjadi di Palestina dan Ukraina juga terjadi di West Papua pada 30-11-2023 yang diterima media Globalindo.net pernyataan resmi melalui halaman resminya.
Presiden Wenda menambahkan saat dikonfirmasi media bahwa Invasi ilegal, pendudukan, pembersihan etnis, genosida – masyarakat West Papua telah hidup dalam kondisi seperti ini selama enam puluh tahun ujarnya
Presiden Benny Wenda menambahkan bahwa Selama setahun terakhir kita telah mengalami pembantaian besar-besaran di Wamena, Yahukimo, dan Fakfak. Pengungsian massal telah terjadi di Yahukimo dan Nduga, sehingga menambah kemungkinan 100.000 orang yang terpaksa mengungsi akibat operasi militer Indonesia sejak tahun 2018. Lebih dari 76.000 warga Papua saat ini menjadi pengungsi di tanah mereka sendiri. Para lansia terpaksa hidup tanpa makanan dan minuman; anak-anak tanpa pendidikan; perempuan harus melahirkan di hutan tanpa bantuan medis. Ini adalah krisis kemanusiaan yang sangat besar – namun Indonesia meresponsnya dengan terus melarang jurnalis internasional, dan mencegah bantuan menjangkau mereka yang paling membutuhkan Ujarnya melalui Chat Whatsapp saat dikonfirmasi media Globalindo.net
Presiden Wenda, mengatakan Rakyat West Papua yang terpaksa mengungsi seringkali tidak dapat kembali ke kampung halamannya karena terus menerus diduduki oleh tentara Indonesia TNI. Ini adalah strategi ekosida mereka di West Papua: membersihkan masyarakat dan kemudian mengeksploitasi lahan [kekayaan alam]. Bekerja sama dengan perusahaan internasional, Indonesia kini menghancurkan hutan Papua dengan kecepatan yang belum pernah terjadi sebelumnya. Tanah leluhur kami dirusak oleh mega proyek baru seperti Merauke Food Estate (Miffe) dan tambang emas Blok Wabu ujarnya
Ia menambahkan Selain berduka atas peristiwa mengerikan tahun lalu, tanggal 1 Desember ini juga akan menjadi perayaan Kongres ULMWP yang akan berlangsung pada tanggal 19 dan 20 November. Kongres ini adalah wujud keinginan rakyat, pilihan rakyat – sebuah perayaan demokrasi yang ingin kita ciptakan di West Papua yang merdeka ujarnya
Presiden Wenda, mengatakan Bintang Kejora bukan sekedar bendera. Ini adalah simbol perjuangan kita yang bersatu, dan sebuah janji bahwa suatu hari kita akan merebut kembali kedaulatan kita yang telah dicuri. Pada tanggal 1 Desember 1961, Bintang Kejora dikibarkan di Jayapura, lagu kebangsaan kita dikumandangkan, dan West Papua hampir menjadi negara Melanesia pertama yang merdeka. Inilah sebabnya mengapa sangat menyakitkan jika mengibarkan bendera sekarang dianggap ilegal. Siapa pun yang mengungkitnya, dalam aksi protes atau upacara keagamaan, bisa diancam hukuman penjara hingga 25 tahun. Begitulah nasib saya, bersama banyak pahlawan perjuangan kami lainnya, seperti Filep Karma dan Jonah Wenda. Jika saya tidak melarikan diri, saya akan tetap berada di penjara sekarang Ujar Presiden Wenda.
Ia menambahkan bahwa kepada semua pendukung kami di luar West Papua, saya meminta agar Anda mengibarkan Bintang Kejora pada tanggal 1 Desember [tahun] ini untuk semua rakyat West Papua yang tidak dapat melakukannya tanpa mengambil risiko ditangkap, disiksa, dan dibunuh. Anda bisa menjadi suara bagi mereka yang tidak bersuara yang diterima media Globalindo.net.
Sementara itu aktivis papua Nggiya Tabuni, mengatakan bahwa seluruh teri-tori west Papua akan gelar aksi damai, upacara, doa, mimbar bebas dan lainnya sebagai memperingati hari ulang tahun lahirnya embrio bangsa Papua pada 01 Desember 1961 – 01 Desember 2023 yang KE-62 Tahun akan diperingati dengan cara dan gaya orang Papua Ujarnya diterima media Globalindo.net
Presiden Wenda, menambahkan Bagi semua rakyat di West Papua, baik Anda yang tinggal di kota, di kampung pengungsian, di pengasingan, atau sebagai pejuang gerilya di hutan, tanggal 1 Desember harus menjadi hari perayaan dan kenangan yang tenang. Perayaan atas semua yang telah kita capai selama enam dekade terakhir, dan kenangan atas semua yang telah kita hilangkan dalam perjuangan ini. Saya menyerukan kepada rakyat West Papua untuk mengadakan pertemuan doa untuk refleksi yang tenang diakhiri melalui Whatsapp yang diterima media Globalindo.net.
Pewarta : Dano Tabuni
Editor. : Herman/Muz












