KAB.BANDUNG,JABAR
Globalindo.Net // Sebagai sumber kehidupan air sangat dibutuhkan oleh manusia. Suatu daerah bisa dikatakan makmur apabila tersedianya sumber air yang berlimpah.
Maka sudah bisa dipastikan masyarakat yang memiliki sumber daya air yang berlimpah, terutama di pedesaan bisanya dicirikan dengan kelimpahan dari hasil pertanian dan peternakan.
Masyarakat Kampung Tambakan Kecamatan Pameungpeuk, Desa Bojongkunci Kabupaten Bandung, selama bertahun-tahun memanfaatkan air irigasi pertanian untuk mencuci pakaian dan perabotan rumah tangga.
Berlimpahnya air irigasi yang mengalir ke kampung mereka menjadi berkah tersendiri ditengah kesulitan air di banyak tempat akibat musim kemarau yang telah mengeringkan sumur sumur warga.
Menurut Lia 47, salah seorang ibu rumah tangga saat ditemui Globalindo mengatakan, bahwa aktivitas mencuci pakaian dan perabotan dilakukan di pagi hari, saat kondisi air masih bersih, selasa (20/8/2024).
“Disini sudah jadi aktifitas sejak dulu. Kalau pagi-pagi, kami cuci baju dan cuci piring di selokan irigasi ini,” ujar Lia.
Alasannya, mencuci di saluran irigasi bisa menghemat pengeluaran air bersih. “Apalagi jika bertemu para tetangga, pasti mencuci jadi menyenangkan,” ungkap Lia.
Dari pantauan Globalindo, panjang saluran irigasi yang melintas Kampung Tambakan berjarak sekitar 500 meter. Dari sepanjang 500 meter itu, terdapat tempat-tempat khusus untuk mencuci pakaian.
Ia mengatakan, meski mencuci baju dan perabotan rumah tangga menggunakan air selokan irigasi, tidak lantas mereka menderita penyakit kulit karena air irigasi.
“Justru kalau pagi-pagi, air selokan ini bersih, makanya kami suka mencuci disini. Lagian, bilas pakaian disini bisa bikin pakaian lebih bersih daripada mencuci pakaian pakai air di rumah. Tapi kalau mandi mah enggak disini, tetap di rumah,” ujar Lia
Hanya saja, kata Lia, selokan air irigasi yang dimanfaatkan warga tersebut, hanya bersih di pagi hari. Menjelang siang, kondisi selokan mulai keruh karena aktifitas pertanian dan erosi tanah dari sekitar hulu yang kemudian lumpurnya terbawa aliran sungai
Apalagi di akhir pekan saluran kerap penuh dengan aktivitas mencuci yang dilakukan oleh para perempuan. “Selama ini tidak ada keluhan dari para petani, lagipula tidak ada larangannya,” imbuh dia.
Galih












