KAB.BANDUNG-JABAR
Globalindo.Net // Memasuki usia ke-79 Indonesia Merdeka tentu bukan waktu yang singkat bagi bangsa Indonesia dalam menikmati kemerdekaan, telah banyak pembangunan yang di rasakan, selain nilai nilai kebebasan yang hakiki juga secara fisik pembangunan disegala bidang kian terasa manfaatnya.
Dalam mengisi kemerdekaan kita diberikan kebebasan untuk bekerja, bersekolah dan menentukan nasib serta pilihan tanpa takut ancaman dari penjajah, wal hasil banyak anak-anak bangsa yang merasakan nikmatnya kemerdekaan dengan menikmati kesejahteraan.
Diantara sekian banyak warga bangsa yang menikmati buah dari kemerdekaan berupa kemakmuran dan kesejahteraan hidup, namun ternyata tidak sedikit warga bangsa yang kurang beruntung belum bisa menikmati lezatnya kueh kemerdekaan yang sejatinya mereka raih.
Mereka menyebutnya belum Merdeka seutuhnya, karena di 79 tahun Indonesia Merdeka, himpitan kehidupan masih terus mereka rasakan diataranya adalah tinggi harga kebutuhan dan sulitnya lapangan pekerjaan.
Mereka yang belum merasakan kemerdekaan seutuhnya di setiap merayakan Hari Kemerdekaan RI diantaranya adalah para petani gurem dan buruh tani yang kehidupannya mengandalkan dari hasil pertanian yang terbatas.
Petani gurem dan buruh tani adalah dua profesi yang masih banyak dilakukan oleh sebagian masyarakat kampung di pedesaan, mereka hidup dalam kemiskinan dan keterbatasan, banyak dari mereka melakoni hidup hanya sekedar untuk menyambung nyawa.
Sungguh Ironi di negara yang mayoritas masih mengandalkan dari pertanian, justru para petaninya tidak mendapatkan perhatian dari pemerintah, mereka dibiarkan hidup mengolah tanah sepetak dengan mangandalkan sumberdaya seadanya.
Tahun 1984 berlanjut tahun 2022 Indonesia pernah tercatat mengalami swasembada pangan, hal tersebut membuktikan bahwa peran sektor pertanian pernah memberikan sumbangsih mengharumkan negara dipentas internasional, tentu saja itu bekat jerih payah dan kerja kerasa para petani.
Menaikan derajat untuk kesejahteraan para petani adalah dengan mengembalikan fungsi mereka sebagai pengahasil komoditas pertanian dan negara harus hadir memberikan fasilitas berupa kemudahan-kemudahan yang mereka butuhkan.
Namun demikian diusia ke 79 tahun Indonesia Merdeka, banyak disampaikan kaitan program pemerintah untuk mensejahterakan petani, tetapi faktanya sampai saat ini belum mampu mensejahterakan banyak petani dan mengentaskan mereka dari kemiskinan.
Untuk memperingati HUT RI ke 79 Tim Globalindo melakukan penelusuran dan wawancara berkaitan dengan kondisi para petani gurem yang ada di Kabupten Bandung.
Kami berhasil mewawancari Mak Aliin 73 dikediamnnya di Kelurahan Andir, Baleendah Kabupaten Bandung, hidup berdua bersama suami Abah Enjang, Mak Aliin menyampaikan ketidakpedulian dengan program-program pemerintah, menurutnya para petani seperti hal dirinya banyak dijadikan bahan kampanye oleh para calon pemimpin.
“Mereka para calon pemimpin saat kampanye hanya janji-janji tapi tidak pernah ada bukti dalam mensejahterakan.” Ujar Mak Aliin.
Ditambahkan, jangankan untuk mensejahterakan kami sebagai petani untuk membeli pupuk juga kadang susah, coba di mana peran pemerintah ketika kami susah, tambah Mak Aliin dengan nada murung.
Dari kacamata social ucapan Mak Aliin diibaratkan fenomena gunung es, jika melihat fakta dilapangan bisa jadi merupakan suara hati kebanyakan masyarakat petani, alih alih mensejahterakan mereka ternyata janji manis para calon pemimpin selama ini bisa jadi merupakan hal yang terasa pahit dirasakan mereka.
Meski diakui tidak ada kemakmuran dan kesejahteraan yang diraih dengan cara cepat dan mudah, tapi setidaknya di tahun ke 79 Indonesia Merdeka, proses menuju kesejahteraan bisa menampak dari mudah dan murahnya kebutuhan hidup yang bisa mereka rasakan, bukan malah sebaliknya.
Predikat Indonesia sebagai lumbung pangan dunia dimasa lampau tentunya akan dapat diraih kalau semua pihak bisa menjamin kesejahteraan petani. Kita semua berharap para pahlawan pangan ini dapat merasakan kemerdekaan yang sesungguhnya di HUT ke-79 RI tahun ini.
Galih












