PeristiwaBandungJawa Barat

Haris Sofyana Dosen POLTEKKES Bandung Berhasil Raih Doktor Bidang Ilmu Kedokteran dI FK UNPAD

761
×

Haris Sofyana Dosen POLTEKKES Bandung Berhasil Raih Doktor Bidang Ilmu Kedokteran dI FK UNPAD

Sebarkan artikel ini

PERISTIWA

Globalindo.Net // Pada tanggal 23 Juli 2024, bertempat di di Gedung Koeswadji Health Research & Innovation Center Universitas Padjajaran. Haris Sofyana Mahasiswa Program Doktoral S3 Fakuktas Kedokteran, mempresentasikan disertasinya mengenai Model Pengurangan Resiko Bencana Berbasis Masyarakat.

Sidang dihadiri oleh Dr. Sumarjaya, SKM, MM.MFP, CFA, Kepala Pusat Penaggulangan Krisis Kementerian Kesehatan RI sebagai penguji, dengan  para penguji lainnya, yaitu:

  • Dr. Yudi Mulyana Hidayat, dr., Sp.OG, Subsp.Onk. DMAS
  • Ketua Sidang, Prof. Dr. Meita Dhamayanti, dr., Sp.A., Subsp.TKPS., M.Kes
  • Sekretaris Sidang, Prof. Kusman Ibrahim., SKP., PhD
  • Ketua Promotor, Irvan Afriandi., dr., MPH., Dr. PH
  • Anggota Promotor, Erna Herawati., S.Ant., MA., PhD
  • Anggota Promotor, Dr. Dzulfikar DLH, dr., Sp.A(K), M.Kes., MMRS
  • Pembahas/Oponen, Yani Trisyani., SKP., MN., PhD
  • Pembahas/Oponen, Prof. Dr. Vita Murniati Tarawan, dr., Sp.OG, M.Kes., AIFO., SH.

Haris menyampaikan pada disertasinya bahwa latar belakang penelitian ini didasari tingginya potensi bencana di Indonesia. Jawa Barat memiliki IRB sedang, sedangkan Kabupaten Bandung IRB tinggi. Jenis bencana paling ekstrim di Jawa Barat dan Kabupaten Bandung adalah gempa bumi, letusan gunung api, banjir, tanah longor, dan cuaca ekstrim.

Perlu upaya menyiapkan masyarakat agar memiliki sikap kemandirian dan ketangguhan menghadapi bencana. Peran perawat sangat penting dalam menyiapkan kemandirian dan ketangguhan masyarakat melalui praktik keperawaran komunitas dan keperawatan bencana.

Disampaikan bahwa tujuan penelitian nya adalah menyusun Model Pengurangan Risiko Bencana Berbasis Masyarakat (MPRB2M) dengan pendekatan peka budaya dalam meningkatkan kemandirian masyarakat di daerah rawan bencana.

Metode yang digunakan mix method dengan sequential explanatory design untuk mengembangkan model MPRB2M dengan pendekatan peka budaya. Tahap kualitatif mengkonstruksi dan merancang kajian kebutuhan (need assessment) model MPRB2M dengan pendekatan peka budaya sedangkan tahap kuantitatif berupa uji coba dan implementasi model MPRB2M (model testing and implementation) di Desa Sugih Mukti.

Data kualittaif diambil dengan wawancara semi terstruktur dan FGD kepada masing-masing 14 informan.

Data kuantitatif diambil dengan cara quasi-experimental design dengan rancangan two-group pre-post test with control group design pada sampel sebanyak 100 responden.

Analisis ANOVA dua jalur digunakan untuk setiap variabel guna menilai efek kelompok (intervensi dan kontrol), efek waktu penilaian (t0, t1, t2, dan t3), serta efek interaksi antara kelompok dan waktu. Jika terdapat interaksi signifikan antara variabel kelompok dan waktu, dilanjutkan analisa uji paired t-test dan dilakukan uji post hoc Bonferroni.

Hasil penelitian tersusunnya pengembangan model MPRB2M dengan pendekatan peka budaya berisi 5 modul pembinaan masyarakat dengan 12 tema hasil penelitian.

Model MPRB2M mengkonstruksi tema penelitian dan rencana aksi pengurangan risiko yang terdiri dari: bencana prioritas di Sugih Mukti; pengetahuan tentang bencana; kebijakan desa dan kerjasama antar lembaga; kebijakan pemanfaatan teknologi sederhana kebencanaan; sistem nilai budaya dan cara hidup sosial masyarakat; pelatihan bencana bagi masyarakat bidang kesehatan; pemberdayaan ekonomi darurat bencana; implementasi kesetaraan gender dalam penanggulangan bencana; paradigme konvensianal bencana; agama islam dan falsafah hidup lokal sebagai kekuatan menghadapi bencana; karakter sosial penghambat pemberdayaan masyarakat; dan potensi pengurangan resiko bencana dalam keluarga. Model MPRB2M berpengaruh terhadap peningkatan pengetahuan, sikap, keterampilan dan self efficacy masyarakat di daerah rawan bencana

Disampaikan bahwa dengan nilai p value 0,000 < 0,05, sehingga berkontribusi dalam mendukung kemandirian ketangguhan masyarakat dalam pengurangan risiko bencana.

Haris menyampaikan bahwa simpulan dari penelitian ini adalah model MPRB2M dengan pendekatan peka budaya mengidentifikasi kekuatan kearifan lokal di masyarakat dalam mengurangi risiko bencana.

Kearifan local di identifikasi dalam 12 tema penelitian dan 5 modul penelitian. Model MPRB2M dengan pendekatan peka budaya berpengaruh secara signifikan dalam meningkatkan kompetensi (pengetahuan, sikap dan keterampilan), dan self efficacy masyarakat dengan nilai p value 0,000 < 0,05. Selain itu Model MPRB2M sinergis dengan program pemerintah, sehingga dapat membantu akselerasi ketercapaian Desa Tangguh Bencana.

Sementara itu pada saat yang sama GLOBALINDO Sempat mewawancarai Asep Setiawan Ketua Jurusan Keperawatan Poltekkes Bandung, Ia  menyampaikan bahwa “Saya menyambut baik hasil disertasinya pak Haris Sofyana dimana Indonesia sebagai negara yang memiliki kerentanan tinggi akan kejadian bencana, memerlukan upaya upaya terstruktur untuk menghadapi semua siklus kejadian bencana. Model hasil riset pak Haris akan mampu meningkatkan kesiapan masyarakat untuk dapat menolong dirinya dan orang terdekatnya saat kejadian bencana, yang pada akhirnya diharapkan mampu menurunkan dampak kejadian bencana pada aspek kesehatan individu dan masyarakat.”tutur asep

 

Galih