JAWA TIMURMaduraSumenep

Ludianto: Dari Relawan Kemanusiaan, Jurnalis hingga Aktivis Kepemudaan Sumenep

32
×

Ludianto: Dari Relawan Kemanusiaan, Jurnalis hingga Aktivis Kepemudaan Sumenep

Sebarkan artikel ini

SUMENEP – Tidak semua perjalanan hidup dibangun dari satu jalan. Ada yang tumbuh dari pengalaman, ditempa oleh pengabdian, kemudian menemukan ruang perjuangannya melalui organisasi, kemanusiaan dan tulisan.

Sosok itu adalah Ludianto, putra Desa Palasa, Kecamatan Talango, Kabupaten Sumenep, yang lahir pada 12 Februari 1989. Perjalanannya memperlihatkan bagaimana pengalaman di tengah masyarakat dapat membentuk kepedulian sekaligus keberanian untuk mengambil bagian dalam berbagai persoalan sosial.

Sejak menempuh pendidikan di SDN Palasa 1, SMPN 1 Talango hingga SMA Sayyid Yusuf Talango, Ludianto tumbuh dalam lingkungan masyarakat kepulauan yang lekat dengan kehidupan sosial, ekonomi kerakyatan dan berbagai dinamika masyarakat desa.

Perjalanan akademiknya kemudian berlanjut sebagai mahasiswa di UNIBA Madura. Namun bagi Ludianto, pendidikan tidak hanya berlangsung di ruang kelas. Pengalaman berorganisasi, menjadi relawan dan terjun langsung ke tengah masyarakat menjadi bagian penting dari proses pembentukan dirinya.

*Ditempa dari Dunia Kerelawanan*

Jauh sebelum dikenal melalui aktivitas jurnalistik dan organisasi kepemudaan, Ludianto pernah menapaki dunia kerelawanan.

Ia pernah aktif sebagai relawan kemanusiaan Yayasan Dana Sosial Al Falah (YDSF) Surabaya. Dalam aktivitas tersebut, ia terlibat dalam berbagai kegiatan sosial dan kemanusiaan.

Jejak tersebut pernah terlihat dalam penanganan persoalan kekeringan di Kabupaten Sumenep. Ludianto tercatat sebagai relawan YDSF Sumenep-Pamekasan yang ikut dalam distribusi bantuan air bagi masyarakat terdampak kekeringan.

Pengalaman tersebut menjadi lebih dari sekadar aktivitas kerelawanan. Berhadapan langsung dengan masyarakat yang membutuhkan bantuan membuatnya memahami bahwa persoalan sosial tidak cukup hanya dibicarakan, tetapi membutuhkan kehadiran dan tindakan.

Pengalaman serupa juga dijalani ketika Ludianto aktif sebagai Relawan Inspirasi Rumah Zakat serta pernah menjadi relawan Dompet Dhuafa Jawa Timur.

Dari dunia kerelawanan itulah tumbuh satu prinsip yang kemudian terus dibawanya: hadir di tengah masyarakat dan memberikan manfaat, sekecil apa pun kontribusinya.

*Organisasi sebagai Ruang Pengabdian*

Perjalanan Ludianto kemudian berkembang melalui organisasi kepemudaan.

Ia pernah aktif di Pelajar Islam Indonesia (PII) Kabupaten Sumenep dan kemudian aktif di lingkungan Pemuda Muhammadiyah Kabupaten Sumenep.

Dari organisasi, ia belajar bahwa perubahan tidak selalu lahir dari ruang-ruang besar. Terkadang perubahan justru dimulai dari keberanian anak muda untuk menyampaikan gagasan, membangun solidaritas dan ikut menyelesaikan persoalan di lingkungan sekitarnya.

Saat ini, Ludianto aktif di DPD KNPI Kabupaten Sumenep pada bidang Perekonomian, Perindustrian dan Perdagangan.

Bidang tersebut menjadi ruang bagi dirinya untuk ikut memberikan perhatian terhadap persoalan ekonomi masyarakat, perdagangan, perindustrian serta pengembangan potensi ekonomi daerah.

Keterlibatan tersebut sekaligus memperluas ruang pengabdiannya. Jika sebelumnya ia banyak bersentuhan dengan persoalan sosial dan kemanusiaan melalui aktivitas kerelawanan, kini ia juga mengambil bagian dalam diskursus pembangunan ekonomi dan kepemudaan.

*Menjadikan Tulisan sebagai Suara Masyarakat*

Di tengah perjalanan organisasi dan sosialnya, Ludianto juga menemukan ruang lain untuk berkontribusi: jurnalistik.

Ia menekuni dunia jurnalistik sebagai wartawan, penulis dan editor. Namanya tercatat dalam sejumlah media, di antaranya Porosbaru.com, PWMU.CO, OkaraNews.id dan WARTAMU.ID.

Dunia jurnalistik bagi Ludianto bukan semata-mata pekerjaan menulis berita. Baginya, tulisan dapat menjadi ruang untuk menyampaikan suara masyarakat, membuka persoalan yang belum mendapatkan perhatian dan menghadirkan informasi kepada publik.

Berbagai isu lokal menjadi perhatian dalam karya jurnalistiknya, mulai dari persoalan masyarakat desa, pendidikan, ekonomi, pertanian, nelayan, pelayanan publik, kepemudaan hingga dinamika sosial di Kabupaten Sumenep.

Pengalaman sebagai relawan menjadi bekal tersendiri ketika ia menjalankan aktivitas jurnalistik. Ia tidak hanya melihat persoalan dari balik meja redaksi, tetapi memiliki pengalaman bersentuhan langsung dengan masyarakat.

*Dari Masyarakat, Kembali untuk Masyarakat*

Jika dirunut, perjalanan Ludianto memiliki benang merah yang cukup jelas: masyarakat.

Kerelawanan mempertemukannya dengan masyarakat yang membutuhkan. Organisasi mengajarkannya tentang gerakan dan kepemimpinan. Sedangkan jurnalistik memberinya ruang untuk menyampaikan berbagai persoalan masyarakat kepada publik.

Ketiganya kemudian bertemu dalam satu semangat: pengabdian.

Sebagai aktivis muda, Ludianto memilih untuk tetap bergerak di ruang-ruang yang bersentuhan dengan kepentingan masyarakat. Tidak selalu melalui langkah besar, tetapi melalui kerja-kerja yang dilakukan secara konsisten.

Kini, aktivitasnya di DPD KNPI Kabupaten Sumenep bidang Perekonomian, Perindustrian dan Perdagangan menjadi bagian dari perjalanan panjang tersebut.

Dari seorang relawan yang pernah turun membantu masyarakat menghadapi kekeringan, kemudian menjadi jurnalis yang mengangkat berbagai persoalan publik, hingga aktif dalam organisasi kepemudaan—Ludianto terus menapaki perjalanan yang sama: belajar dari masyarakat, menyuarakan masyarakat dan berusaha memberikan manfaat bagi masyarakat.

Perjalanan itu belum selesai. Justru masih terus berlangsung, seiring dengan dinamika Sumenep dan tantangan generasi muda yang semakin kompleks.

Dan bagi Ludianto, mungkin inilah makna sederhana dari sebuah pengabdian: tetap hadir, tetap bergerak dan tetap bermanfaat.

Tinggalkan Balasan