JAWA TIMURSumenep

Pilu! Gaji Nakes Kangean Anjlok dari Rp2Juta Jadi Cuma Rp350 Ribu, Nasib Terguncang

170
×

Pilu! Gaji Nakes Kangean Anjlok dari Rp2Juta Jadi Cuma Rp350 Ribu, Nasib Terguncang

Sebarkan artikel ini

SUMENEP, Globalindo.net – Kepiluan mendalam menyelimuti hati para tenaga kesehatan di wilayah Kepulauan Kangean, Kabupaten Sumenep. Pengabdian mereka selama belasan tahun seolah tak memiliki nilai, seiring dengan perubahan status kepegawaian yang membuat nasib mereka kini terguncang hebat.

Mereka yang dulunya dikenal sebagai tenaga kontrak dengan dedikasi tinggi, kini harus menelan pil pahit setelah dialihkan statusnya menjadi Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK) Paruh Waktu. Perubahan ini bukan hanya soal nama, melainkan sebuah tamparan keras pada kesejahteraan mereka yang begitu memilukan.

Dulu, dengan masa kerja yang telah mencapai 16 tahun, mereka bisa merasakan hasil jerih payah dengan penghasilan di atas Rp 2.000.000 per bulan. Angka yang mungkin tidak seberapa bagi sebagian orang, namun bagi mereka cukup untuk menghidupi keluarga dan membiayai kebutuhan dasar di tengah keterbatasan wilayah kepulauan.

Namun kini, segalanya berubah drastis. Gaji yang sempat menopang hidup mereka kini anjlok menjadi hanya tersisa Rp 350.000 per bulan.

Angka itu sungguh jauh dari kata layak. Bagaimana mungkin seorang tenaga medis yang setiap hari bergelut dengan nyawa pasien, bekerja keras di puskesmas maupun rumah sakit, harus menerima nominal yang bahkan mungkin tidak cukup untuk biaya transportasi dan makan sehari-hari saja?

“Pengabdian 16 Tahun Seolah Tak Dihargai”

Rasa kecewa dan sakit hati tentu tak terelakkan. Bagi mereka, pemotongan gaji ini bukan sekadar masalah ekonomi, melainkan soal harga diri dan penghargaan atas pengabdian panjang.

“Selama 16 tahun kami mengabdi, mengabiskan masa muda dan tenaga untuk melayani masyarakat Sumenep. Tapi kini, rasanya pengabdian itu tidak dihargai sama sekali,” keluh salah satu tenaga kesehatan yang enggan disebutkan namanya, dengan nada suara bergetar dan mata berkaca-kaca.

Mereka merasa seperti “dibuang” setelah dianggap tak lagi berguna dengan status lama. Harapan akan kesejahteraan yang semakin baik seiring bertambahnya masa kerja, kini justru berubah menjadi mimpi buruk.

Nasib para tenaga medis ini menjadi cermin pahitnya realita birokrasi. Di satu sisi, negara membutuhkan tenaga mereka untuk menjaga kesehatan rakyat, namun di sisi lain, nasib dan kesejahteraan mereka diperlakukan semena-mena.

Hanya ada satu harapan yang tersisa dari para pahlawan kesehatan ini: semoga ada kebijakan yang berpihak pada mereka, dan pengabdian panjang mereka selama hampir dua dekade ini tidak dianggap sebagai angin lalu.

Hingga berita ini dipublikasikan, masih belum ada keterangan resmi dari dinas terkait terkait kebijakan pemotongan gaji tersebut. Namun, awak media akan terus berupaya melakukan konfirmasi untuk mendapatkan kejelasan nasib para tenaga kesehatan ini.”

Pewarta:HR-Eka

Tinggalkan Balasan