JAWA TIMURSumenep

Masyarakat Arjasa–Pajanangger Lelah dengan Janji Manis, Jalan Rusak Tak Kunjung Diperbaiki

486
×

Masyarakat Arjasa–Pajanangger Lelah dengan Janji Manis, Jalan Rusak Tak Kunjung Diperbaiki

Sebarkan artikel ini

Arjasa, Kangean – Satu per satu janji manis sudah diucapkan pejabat, baik dari tingkat kabupaten maupun provinsi. Namun, bagi masyarakat Desa Gelaman, Dusun Songlor, dan Desa Pajanangger, semua janji itu kini hanya terdengar seperti angin lalu. Jalan protokol Arjasa–Pajanangger, yang menjadi urat nadi kehidupan ribuan warga kepulauan, hingga kini tetap terabaikan, seolah tidak pernah masuk dalam prioritas pembangunan.

Masyarakat sudah terlalu sering mendengar kata-kata “akan segera diperbaiki”, “sudah masuk program tahun depan”, hingga “sedang diusulkan”. Namun, tahun demi tahun berganti, jalan tetap sama—rusak parah, penuh lubang, berbatu tajam, dan berubah menjadi lautan kecil saat musim penghujan.

“Jujur saja, kami sudah capek dengan janji-janji itu. Selama bertahun-tahun hanya omongan manis yang kami dengar, tapi tidak pernah ada wujud nyata. Jalan ini semakin rusak, bahkan semakin berbahaya,” ungkap Ahmad, warga Desa Gelaman, Kamis (21/8/2025).

Kondisi jalan yang memprihatinkan itu tak hanya berdampak pada kenyamanan. Lebih jauh, ia menggerogoti kehidupan sehari-hari masyarakat. Para pelajar harus berangkat ke sekolah dengan penuh risiko. Ban sepeda motor sering tergelincir di jalan licin. Tak jarang anak-anak sekolah pulang dengan seragam penuh lumpur karena terjatuh.

“Anak saya sudah tiga kali jatuh saat berangkat sekolah karena jalan penuh lumpur. Sampai kapan kami harus mengorbankan keselamatan anak-anak demi sebuah akses pendidikan? Bukankah negara seharusnya menjamin hak itu?” keluh Nurhayati, seorang ibu rumah tangga di Dusun Songlor.

Bagi para pedagang, kondisi jalan yang rusak parah menjadi tantangan tersendiri. Mengangkut barang dagangan ke pasar Arjasa bukan hanya butuh waktu lebih lama, tetapi juga menambah biaya transportasi karena kendaraan sering rusak. Akibatnya, harga barang di wilayah pedesaan semakin mahal, menekan daya beli masyarakat kecil.

“Bayangkan saja, kami mengangkut hasil bumi dengan sepeda motor. Kalau jalannya seperti ini, sering sekali barang yang kami bawa rusak di jalan. Kerugian jatuh ke kami, sementara pemerintah diam saja,” ujar Sulaiman, warga Desa Pajanangger.

Warga merasa, mereka hanya diingat ketika musim kampanye tiba

Warga merasa, mereka hanya diingat ketika musim kampanye tiba. Saat itu, banyak janji pembangunan diucapkan, bahkan jalan protokol Arjasa–Pajanangger sering dijadikan bahan pidato politik. Namun, begitu pemilu selesai, semua janji ikut sirna, meninggalkan warga dalam kekecewaan.

“Kami ini bukan warga kelas dua. Kami juga warga Indonesia yang punya hak yang sama untuk merasakan pembangunan. Jangan hanya ingat kami ketika butuh suara, lalu melupakan ketika semua selesai. Kami sudah bosan diberi harapan kosong,” tegas Imam, tokoh pemuda setempat.

Hingga kini, belum ada tanda-tanda nyata dari pemerintah daerah maupun pusat. Tidak ada alat berat, tidak ada perbaikan, bahkan sekadar perawatan pun nyaris tak terlihat. Yang ada hanyalah kabar kabur dan janji manis yang semakin menguras kesabaran warga.

Masyarakat kini menegaskan, mereka tidak lagi membutuhkan kata-kata, tetapi tindakan nyata. Jalan Arjasa–Pajanangger bukan sekadar jalur penghubung, melainkan denyut kehidupan yang menentukan masa depan anak-anak, roda ekonomi, dan keberlangsungan sosial masyarakat kepulauan.

“Cukuplah kami menunggu sekian lama. Jangan lagi memberi janji kalau memang tidak bisa ditepati. Saatnya bukti nyata, karena kami sudah terlalu lelah,” tutup Imam dengan nada penuh harap.

Pewarta: Hariyanto/HR