Arjasa, Kangean – Matahari belum sepenuhnya meninggi ketika Rusnawati, kader TB Puskesmas Arjasa yang akrab disapa Ros, melangkah keluar dari rumahnya di Desa Arjasa, Jumat (15/8/2025). Di tangannya, sebuah tas berisi obat—bukan sekadar barang bawaan, melainkan harapan bagi mereka yang sedang berjuang melawan penyakit.
Hari itu, tujuannya jelas: Dusun Arkanale, Desa Paseraman. Di sanalah seorang pasien TB tinggal bersama keluarga, dan Ros harus memberikan obat pada kontak serumah serta kerabat terdekat. Langkahnya ringan di hati, namun tidak pada kaki. Jalanan sempit, berbatu, dan penuh tanjakan membentang sepanjang perjalanan. Setiap hentakan sepatu terasa seperti ujian kesabaran.
Di tengah teriknya matahari, debu beterbangan menyertai setiap langkah. Sesekali ia berhenti, bukan untuk mengeluh, melainkan memastikan obat tetap aman di genggaman. “Kalau saya tidak datang, siapa yang akan memastikan mereka minum obat tepat waktu?” ucapnya lirih, seolah berbicara pada dirinya sendiri.

Setibanya di rumah pasien, senyum hangat menyambut. Anak-anak berlarian di halaman, sementara sang pasien duduk di kursi bambu, menatap Ros dengan rasa lega. Di momen itu, lelahnya perjalanan seakan terbayar lunas. Ros lalu menjelaskan cara minum obat, mengingatkan pentingnya rutin mengonsumsi hingga tuntas, dan memberi semangat agar keluarga tetap saling mendukung.
Di balik dedikasi para kader TB seperti Ros, ada sosok pembimbing yang tak pernah lelah memberikan arahan: Bu Nurhasanah, S.Kep, Penanggung Jawab (PJ) Program TB di Puskesmas Arjasa. Ia senantiasa memberikan bimbingan, motivasi, dan dorongan semangat kepada seluruh kader di kecamatan ini. Dalam setiap kesempatan, Bu Nurhasanah mengingatkan pentingnya bekerja dengan penuh tanggung jawab, mengutamakan keselamatan diri di perjalanan, dan menjaga kesehatan pribadi agar tetap kuat melayani masyarakat.
Bagi Ros, setiap langkah adalah wujud pengabdian. Ia sadar bahwa di pelosok Kangean, akses kesehatan masih menjadi tantangan. Namun berkat arahan dan dukungan moral dari Bu Nurhasanah, ia merasa tidak berjalan sendirian. Ada semangat yang dibagi, ada doa yang menyertai.
Di sudut timur Sumenep, perjuangan Ros dan rekan-rekan kader adalah bukti bahwa kepedulian tak mengenal jarak dan rintangan. Mereka adalah salah seorang Puskesmas Arjasa, kader tanpa tanda jasa yang bergerak senyap, demi satu cita-cita sederhana namun mulia: Arjasa yang sehat, bebas dari TB.
Pewarta : Yan/HR












