Arjasa – Di tengah gegap gempita perayaan Hari Ulang Tahun (HUT) Republik Indonesia ke-80 di Kecamatan Arjasa, lomba paduan suara antar-Tim Penggerak PKK desa kembali menjadi sorotan. Ajang ini selalu menjadi ruang istimewa, tempat suara merdu berpadu dengan semangat persatuan, dan di mana setiap lagu bukan sekadar nada, melainkan pesan cinta untuk tanah air.
Namun, berdasarkan hasil pantauan media, ada pemandangan yang membuat alis sebagian penonton terangkat. Beberapa Tim Penggerak PKK desa tercatat tidak ikut serta dalam lomba yang hanya diadakan setahun sekali ini. Ironisnya, alasan yang terdengar adalah “keterbatasan waktu”—sebuah jawaban yang terasa rapuh ketika desa-desa lain, dengan kesibukan yang sama, mampu hadir dan berpartisipasi.
“Kalau alasannya waktu, berarti ini bukan soal sempat atau tidak sempat, tapi mau atau tidak mau,” ujar seorang penonton sambil menggeleng pelan. Ucapan itu bagai menohok realitas: bahwa semangat gotong royong dan partisipasi itu lahir dari niat, bukan sekadar ketersediaan jadwal.
Ketidakhadiran ini meninggalkan kesan yang kurang sedap. Bukannya menjadi pelaku dalam kemeriahan, beberapa PKK desa justru hanya duduk di bangku penonton, menyaksikan panggung yang seharusnya juga menjadi milik mereka. Di mata sebagian warga, ini seperti melewatkan undangan pesta rakyat, lalu hanya menonton dari jendela sambil berkata, “Ah, tahun depan saja.”
Padahal, kepala desa memegang kunci untuk mendorong dan memfasilitasi Tim Penggerak PKK-nya ikut dalam setiap agenda HUT RI. Tidak ada salahnya sesekali menunda urusan lain demi memastikan bendera desa berkibar di setiap ajang, termasuk di lomba paduan suara. Sebab, partisipasi bukan hanya tentang menang atau kalah, melainkan tentang menunjukkan bahwa desa itu hadir, berkontribusi, dan tidak abai terhadap agenda kecamatan.
Di sisi lain, bagi desa yang hadir, lomba tahun ini adalah panggung kebanggaan. Lagu wajib Indonesia Raya dan Mengheningkan Cipta menggema dengan penuh khidmat, membuat suasana hening namun sarat makna. Lagu pilihan seperti Indonesia Pusaka membawa haru, sementara Tanduk Majeng menghidupkan identitas lokal Kangean yang memukau.
Jakfar Yahya, pembina sekaligus guru SMA Negeri 1 Arjasa, yang melatih beberapa tim PKK peserta lomba, menuturkan bahwa persiapan bukan sekadar latihan teknis. “Saya selalu bilang, nyanyilah dengan hati. Karena jika hati ikut bernyanyi, penonton akan ikut merasakan,” ucapnya.
Melihat kemeriahan di panggung dan sambutan penonton yang hangat, sulit membayangkan mengapa ada yang rela absen. Apalagi ini hanya sekali dalam setahun, bukan acara mingguan yang bisa ditunda atau diulang kapan saja.
Barangkali, tahun depan mereka yang tahun ini memilih menjadi penonton bisa belajar bahwa kemerdekaan itu tidak hanya dirayakan lewat bendera yang berkibar di halaman, tetapi juga lewat langkah kecil untuk hadir, ikut, dan mengisi panggung kebersamaan. Sebab, di momen seperti ini, diam bukan emas—diam hanya membuat kita kehilangan cerita.
Pewarta : Hariyanto/HR












