Arjasa — Setiap pagi dan siang, denyut kehidupan di jalan raya Arjasa seolah berdetak lebih cepat dari biasanya. Ratusan bahkan ribuan siswa-siswi dengan seragam beraneka warna tumpah ruah di sisi kiri dan kanan jalan, berjalan kaki, mengayuh sepeda, atau dibonceng motor oleh orang tuanya. Tapi di balik keceriaan mereka menimba ilmu, terselip satu kekhawatiran yang tidak bisa dianggap remeh: keselamatan jiwa di tengah lalu lintas yang padat dan nyaris tanpa pengaturan.
Sekolah-sekolah yang berada tepat di pinggir jalan raya seperti SMP Negeri 1 Arjasa, SMA Negeri 1, MTs Al-Hidayah, SMK Al-Hidayah, MA Al-Hidayah, YPPMI, SMA Muhammadiyah, MTs dan SMA Mambaul Ulum, hingga SDN Duko 1, SDN Sumber Nangka, SDN Angkatan 1, dan SMP Negeri 2, semuanya menjadi saksi betapa dekatnya anak-anak kita dengan bahaya kendaraan yang melintas dengan kecepatan tinggi.
Maka, dalam batin kami, timbul satu tanya yang terus bergaung:
Haruskah keselamatan menunggu korban untuk didengar? Haruskah anak-anak kami jadi angka dalam laporan kecelakaan, baru kemudian kita bereaksi?
Kami tahu, ini bukan sekadar soal jalan dan kendaraan. Ini adalah soal tanggung jawab dan kepedulian. Di pulau ini, kami tidak meminta yang muluk-muluk. Kami hanya ingin rasa aman yang layak kami dapatkan. Seperti di daratan sana, di mana setiap jam sibuk terlihat sosok berseragam menjaga lalu lintas di depan sekolah, meniup peluit, memberi tanda berhenti pada kendaraan, dan mengantar anak-anak menyeberang.

Kami di sini, di ujung timur Kabupaten Sumenep, juga ingin merasakan hal yang sama.
Kami memohon, kepada Forkopimka, kepada Polres Sumenep, dan seluruh pemangku kebijakan, untuk jauh lebih memahami kondisi pulau kami dan melihat bahwa di pulau ini telah berdiri lembaga-lembaga pendidikan yang besar dan padat siswa. Bahwa kepadatan lalu lintas tidak hanya milik kota. Di sini, kendaraan bermotor tumbuh, anak sekolah makin banyak, dan titik rawan kecelakaan makin nyata.
Kami ingin penegakan aturan lalu lintas yang tidak hanya berkutat pada operasi surat kendaraan, tetapi hadir sebagai pelindung anak-anak kami di jam-jam masuk dan pulang sekolah.
Bukan tilang yang kami takutkan. Tapi kehilangan yang kami tak sanggup hadapi.
Besar harapan kami, agar Polres Sumenep menginstruksikan kepada jajaran Polsek di wilayah kepulauan untuk mulai turun tangan — bukan hanya ketika ada operasi besar, tapi setiap hari, di titik-titik krusial, menjaga dan mengatur lalu lintas sebagaimana mestinya.
Karena sejatinya, keamanan lalu lintas bukan hanya hak kota, tetapi hak seluruh warga negara. Termasuk kami, masyarakat di ujung kepulauan ini.
Oleh: Hariyanto,
Pemerhati Sosial Kepulauan












