Sumenep, Globalindo.Net // Forum Milenial Literasi (FORMASI) Menggelar Focus Group Discussion (FGD) dalam rangka meningkatkan kualitas pemikiran khususnya bagi kaula muda kabupaten Sumenep. Kegiatan tersebut berlokasi di halaman Pemerintahan Kabupaten Sumenep (Pemkab). Jumat, 27/09/2024.
Acara tersebut dihadiri oleh beberapa forum yang telah berdiri di lingkup mahasiswa diantaranya; Forum Of Change (FOC), Forum Mahasiswa Kangean (Formaka), Setara Perempuan, Forum Pemuda Ra’as (FPR), Dan Forum Ketiga Network (FKN). Diskusi ini menjadi fenomena yang sangat penting bagi semua kalangan khususnya mahasiswa, dimana fokus utama pada diskusi kali ini menggali tentang problematika kekerasan seksual yang sedang merajalela di dunia pendidikan.
Rohil Khana sebagai pembicara pertama menyampaikan digital di ibaratkan pisau yang tajam yang menembus kerasnya kehidupan.
“Adanya digital yang di salah gunakan menjadi bahan ajakan yang tidak bermoral dan bisa menimbulkan ketidak amanan serta keresahan terhadap individual, dan hal itu lah yang menjadi penyebab adanya kekerasan seksual”. Ungkapnya.
Di sisi lain Aliya azzahra selaku founder setara perempuan dan juga pembicara pada kegiatan tersebut menyampaikan bahwasanya perempuan seringkali menjadi objek khususnya kekerasan seksual terlebih fenomena yang terjadi di Kabupaten Sumenep
“Perempuan yang di manfaatkan kelemahannya, sampai saat ini masih di jadikan bahan kepuasan nafsu laki-laki. Banyak perempuan yang tidak memiliki kebebasan dan kemerdekaan secara individu, sebab masih banyaknya batasan-batasan yang menyebabkan tidak kokohnya mental seorang perempuan”. Tuturnya.
Amiqatul Amalia melanjutkan diskusi kali ini dengan mengatakan bahwasanya akibat pertama secara dasar terjadinya kekerasan seksual yaitu letak kebiasaan seseorang yang bahkan menjadi bahan tontonan secara sadar justru yang menjadi bahan ajakan nafsu individual khususnya pada ranah pendidikan salah satunya kampus.
“Seharusnya pendidikan seperti ranah kampus menjadi tempat aman para pelajar dan menjadi tempat teladan bagi para pemangkunya. Namun kenyataannya marwah itu malah menjadi tercoret akibat adanya kekerasan seksual dalam dunia pendidikan”. Ungkapnya
Miftahul Amir selaku pembicara ke empat mengatakan bahwasanya kebijakan yang sudah ada tidak sesuai dengan kenyataan yang ada artinya dalam bahasa kerennya realita tidak sesuai dengan ekspetasi.
“Apa gunanya pemerintah jika tidak bisa menjadi pencegah namun turun hanya ketika sudah terpecahkan dan terjadi. Sejauh mana pemerintah mencegah kekerasan jika fokusnya hanya bisa merima bola tidak bisa menjemput bola. Pemerintah yang di harapkan menjadi pelopor utama pencegahan kekerasan, namun kenyataannya tidak bisa berkomitmen terhadap tindakannya.” Pungkasnya.
Pewarta ; FAY
Editor ; Purwati












