KAB.BANDUNG-JABAR
Globalindo.Net // Tidak ada yang berbeda dari hari sebelumnya. Deretan jongko yang terbuat dari kayu itu berjejer sama seperti hari kemarin. Seorang pria paruh baya kelihatan asyik bercengkrama dengan seorang ibu yang menenteng tas belanjaan berbahan plastic.
Tidak lama kemudian mereka berhenti bicara. Pria itu mengambil sayuran dan membungkusnya kedalam plastic kemudian diberikan kepada ibu yang berada dihadapannya.
Setelah memberikan beberapa lembar uang, tanpa pamit si ibu meninggalkan jongko tersebut dan beralih ke jongko berikutnya.
Waktu menunjukan pukul 10 siang. Saya memasuki Pasar Banjaran Kabupaten Bandung. Aroma khas datang seolah mencegat saya.
Tidak menyurutkan langkah, saya terus masuk kedalam pasar. Jam 10 siang pasar agak lengang. Para pedagang terlihat santai merapikan dagangan sementara yang lain sibuk melihat gawai ditangannya disamping sebagian lainnya lagi sudah mulai berkemas untuk menyudahi usahanya.
Kini pasar Banjaran Kabupaten Bandung sudah mulai sepi, banyak ditinggal para pembelinya, itulah keluhan dari banyak pedagang yang saya temui.
”Omset saya menurun hingga 60 % di tahun tahun ini, jualan sepi biaya pengeluaran malah banyak,” ungkap Rudi 38 salah seorang pedagang sayuran yang sudah 18 tahun berjualan di pasar tradisional Banjaran.
Tidak jauh berbeda dengan Rudi, Otang 58 pedagang pakaian menyampaikan isi hatinya “Sekarang orang lebih memilih belanja ke mall atau online, harga murah di antar kerumah, pokok nya gitu lah.” Keluh Otang.
Imbas sepinya pembeli di pasar Banjaran berdampak ke sektor lainnya yang berhubungan erat dengan keberadaan pasar, seperti perputaran di sektor parkir hingga ke ojek pangkalan (opang) semuanya terasa dari hari kehari semakin menipis pendapatan mereka
Dari penuturan Dodi petugas parkir Pasar Banjaran, meskipun banyak motor yang terparkir itu pemiliknya para pedagang sedangkan motor pengunjung sangat sedikit, padahal pemasukan yang dia dapatkan berdasar banyaknya kendaraan yang keluar masuk dari pengunjung.
Para pedagang dan semua para pelaku usaha di Pasar Banjaran tersebut sangat berharap kepada pemerintah untuk segera mengambil langkah/kebijakan untuk menyelamatkan perekonomian Rakyat kecil yang menggantung kan hidup di tempat ini.
Entah memulainya dari mana untuk mengembalikan semangat para pelaku usaha kecil tersebut, keluhan yang mereka suarakan nampak seperti beban berat yang harus mereka pikul.
Seperti lorong yang tidak berujung kesulitan demi kesulitan yang mereka hadapi tidak pernah ada batasnya, hingga akhirnya menyerah terhadap ketentuan takdir.
Tak ubahnya roda yang berputar begitulah kehidupan, diwaktu dulunya pasar tradisional Banjaran merupakan tempat yang ramai dikunjungi orang bahkan pasar tidak sanggup lagi menampung para penjual dan pembeli hingga meluber ke jalan disektarnya mengakibatkan kemacetan.
Jam setengah 12 siang langkah saya mengikuti detak jantung para pedadang pasar Banjaran terhenti, tercekat melihat betapa beratnya kehidupan yang harus mereka tanggung, raut wajah kelelahan dan sorot mata yang optimis bercampur dalam kesulitan hidup yang harus mereka pecahkan sendiri.
Lelah yang terasa harus segera diistirahatkan, sejenak berleha-leha beralaskan papan kayu sudah cukup untuk hari ini segera menyongsong hari berikutnya.
Galih












