EkonomiArtikelBeritaJawa BaratKabupaten Bandung

TAHU Salah Satu Makanan Populer di Masyarakat, Inilah Sekelumit Kisah Pengrajin TAHU

568
×

TAHU Salah Satu Makanan Populer di Masyarakat, Inilah Sekelumit Kisah Pengrajin TAHU

Sebarkan artikel ini

KAB.BANDUNG-JABAR

Globalindo.Net // Indonesia khusunya Jawa Barat kaya akan beragam kuliner menarik yang memiliki cita rasa khas. Salah satu produk makanan olahan tersebut adalah TAHU, yang sangat digandrungi oleh masyarakat dari kalangan bawah hingga menengah atas.

Makanan yang berbahan dasar endapan biji kedelai ini tetap populer dan disukai banyak lidah ditengah menjamurnya kuliner masa kini.

Di Kabupaten Bandung tepat nya di Kampung CIbungur Desa malakasari Kecamatan Baleendah pun begitu, TAHU tetap menjadi makanan favorit masyarakat, baik sekadar disantap langsung maupun dipadukan dengan santapan lainnya.

Bisnis pengolahan TAHU yang berada Kampung Cibungur Malakasari, masih menerapkan metode pengolahan manual (tanpa mesin, red) dengan mengandalkan bahan bakar kayu. Lalu, proses penggilingan untuk menghancurkan kedelai pun juga masih tetap dilakukan dengan secara sedearhana.

Tidak heran, pengerjaan pembuatan TAHU tersebut bisa memakan waktu cukup lama, namun, soal rasa yang dihasilkan tak perlu diragukan.

Mungkin di masa sekarang ini omset para pengrajin TAHU tidak sebesar dulu, penurunan terjadi akibat utamanya karena harga bahan baku kedelai terus mengalami kenaikan yang berdampak naiknya harga TAHU serta menurunnya daya beli masyarakat.

Mamat 64 tahun menuturkan kepada Globalindo, untuk omset sekarang agak lesu dibandingkan dengan tahun tahun kemaren mungkin daya beli masyarakat nya berkurang.

Namun Mamat tetap bersyukur usahanya masih bisa bertahan ditengah persaingan para pengrajin TAHU yang bermodal besar.

“Dengan kondisi sekarang ini kita bersyukur aja masih bisa bertahan apalagi saingan nya sekarang makin banyak,” Ujar Mamat.

Berbeda dengan Jemi (50) pengrajin sekaligus pedagang TAHU keliling, TAHU buatannya laku terjual tidak lebih 600 potong setiap hari nya.

“Susah sekarang mah pengen jual di atas 1000 potong, soal nya banyak saingan tapi alhamdulilah kalo kita ikhtiar mah masih bisa bawa uang kerumah, Tujuh Puluh Ribu, ya lumayan lah buat biaya hidup,” tutur Jemi dengan sedikit tersenyum.

Itu lah berbagai jawaban dan tanggapan yang berhasil kami terima dari masing masing pengrajin dan pedagang TAHU keliling dari hasil investigasi Globallindo di lapangan.

Sebuah fakta yang mencengangkan bahwa para pedagang kecil tidak melihat untung yang besar mereka memilih bertahan walaupun pendapatan nya sedikit tapi mampu untuk bertahan hidup.

Tentu beban yang sangat berat yang di rasakan para pengrajin dan pedagang tersebut terkait biaya hidup tidak bisa dianggap remeh, mereka dituntut untuk bertahan ditengah ketidak pastian perekonomian dan banyaknya PHK.

Bertahan hidup dengan usaha sebisanya merupakan berkah tersendiri bagi mereka, menurut mereka lebih baik ada penghasilan meskipun kecil, karena ketika sudah tidak ada penghasilan artinya kiamat kehidupan.

Sisi lain tugas pemerintah dalam menjawab persoalan dalam bidang UMKM adalah pengendalian harga pangan, karena komoditas pangan terutama harga kedelai rentan terhadap fluktuasi harga, pemerintah harus menjaga ketersedian pasokan dan kelancaran distribusi.

Tentunya masyarakat mengharapkan solusi dari pemerintah untuk menekan biaya kebutuhan bahan pokok sehingga masyarakat tidak terlalu di bebani dengan kebutuhan pokok yang sangat tinggi dan tidak sesuai dengan penghasilan.

 

Galih