PendidikanBandungBeritaJawa Barat

PLH Disdik Jabar Meminta Kembali Aktifkan Peran Guru BK Dan Menyediakan Ruang Konsultasi

424
×

PLH Disdik Jabar Meminta Kembali Aktifkan Peran Guru BK Dan Menyediakan Ruang Konsultasi

Sebarkan artikel ini

BANDUNG, Globalindo.Net // NFN (18) siswi SMK di Kabupaten Bandung Barat meninggal dunia, diduga setelah mengalami perundungan dari temannya.

Kasus perundungan di sekolah dapat terjadi kapanpun dan dimanapun, peran aktif guru maupun orang tua sangat dibutuhan sekali, agar kasus serupa bisa dicegah sedini mungkin.

Plh Kepala Dinas Pendidikan Jawa Barat Ade Afriandi mengatakan, guru berperan penting melakukan pencegahan dan penanganan jika terjadi perundungan. Karenanya, dia meminta kepala sekolah untuk mengaktifkan peran guru Bimbingan Konseling (BK).

Ade meminta, Untuk seluruh kepala satuan pendidikan baik negeri maupun swasta untuk mengaktifkan peran guru BK dan menyediakan ruang konsultasi, minimal curhat-curhatan untuk siswa itu, katanya.

Disdik Jabar sedang terus berupaya menguatkan kembali peran guru BK, yang berguna untuk menumpahkan keluhan siswa di sekolah. Sekolah juga harus memberi ruang bagi guru BK untuk aktif memperhatikan siswanya, sebut Ade.

“Saya minta kepala sekolah untuk menguatkan guru BK tersebut, jangan memposisikan kalau dibutuhkan. Intinya, ‘Beri ruang untuk guru BK tersebut’ Agar bisa memperhatikan siswa,” tegasnya.

Namun, Selain guru BK, peran orang tua di rumah tidak kalah pentingnya, Untuk mencegah dampak serius dari perundungan. Ade mengatakan, “Orang tua harus bisa mengajak anak-anaknya mengungkapkan keluh kesah atas apa yang dialami di sekolah”.

Dan orang tua juga harus memberi ruang kepada anak, apabila anak berkeluh kesah, daripada si anak menumpahkan keluh kesahnya di media sosial. Jadi pada intinya orang tua juga harus sama-sama memperhatikan anak,” ujar Ade.

Saat ini diakui Ade bahwa Disdik Jabar juga tengah menyiapkan program khusus untuk mengantisipasi dan mencegah perundungan di sekolah. Program ini dibuat agar edukasi yang diberikan bisa mudah dipahami.

“Secara kedinasan kami berpikir membuat program atau kegiatan untuk selalu mengingatkan terkait dengan perilaku adab dan perundungan ini. Mungkin menurut anak (perundungan) itu biasa, itu yang harus diantisipasi lewat edukasi dengan kegiatan,” pungkas Ade.