HajjiTerbaru

PBNU Soroti Rencana Murur di Muzdalifah: Sangat Sempit dan Sesak

396
×

PBNU Soroti Rencana Murur di Muzdalifah: Sangat Sempit dan Sesak

Sebarkan artikel ini

Globalindo.Net // Katib Syuriyah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Sarmidi Husna menyoroti praktik murur di Muzdalifah yang akan diterapkan untuk jamaah haji Indonesia. Hal ini disebutnya beralasan sebab tempat di Muzdalifah sangat sempit dan sesak jika dipaksakan untuk mabit atau bermalam.

“Murur itu mabit di Muzdalifah dengan cara naik bus tidak turun. Kemudian, langsung mabit di Mina. Kenapa kok tidak turun? Karena kondisi Muzdalifah nanti akan sangat padat,” ujarnya kepada wartawan, Kamis (6/6/2024).

Kiai Sarmidi menjelaskan, jamaah haji Indonesia saat ini terbagi ke dalam 9 maktab. Mina Jadid yang dulunya bisa menampung hingga 27 ribu jamaah haji kini tidak lagi dipakai dan bergeser ke Mina lama.

“Kemudian, beberapa arena di Muzdalifah itu dibangun untuk MCK (mandi, cuci, kakus) itu lebih dari 2 hektar sehingga tempat di Muzdalifah ini menjadi sempit. Kalau dihitung-hitung itu per orang kalau dipaksakan mabit di Muzdalifah semuanya itu 0,4 meter per orang. Itu sangat sesak sekali,” katanya.

“Sehingga pemerintah Indonesia dan pemerintah Arab Saudi memutuskan untuk membuat kebijakan murur saja, mabit di Muzdalifah,” lanjut dia.

Lebih lanjut, Kiai Sarmidi mengatakan PBNU sudah memutuskan hukum murur dengan landasan keagamaan. “Minggu kemarin PBNU sudah memutuskan bahwa murur itu sah jika mururnya di Muzdalifah itu lewat tengah malam. Boleh memilih murur sah kalau lewat tengah malam,” terang dia.

Disebutkan lagi, kebolehan murur dilandasi dengan hukum kesunnahan mabit di Muzdalifah. Artinya, mabit hanya dilakukan dengan murur saja tetap sah ibadahnya.

Selain itu, Kiai Sarmidi menjelaskan boleh mengikuti pendapat sunnah ditambah dengan adanya uzur. “Karena sesaknya Muzdalifah, padatnya Muzdalifah bisa dijadikan alasan uzur syar’i untuk tidak mabit di Muzdalifah dan menggunakan cara murur saja,”

Ketua Umum (Ketum) PBNU Yahya Cholil Staquf menambahkan, secara khusus syuriyah PBNU membahas masalah-masalah ini dan merumuskan sejumlah tuntunan agar bisa dijadikan acuan jamaah haji untuk melaksanakan ibadahnya secara lebih ringan dan lebih menjamin keselamatan mereka.

“Jamaah akan berlipat, lima jutaan jamaah haji, ada hal-hal yang memang kita memang kalau memaksakan yang berat-berat itu jadi masalah besar. Misalnya, soal mabit di Muzdalifah, itu kalau mencari fadilah yang berat itu masalah besar. Begitu juga di Mina karena Mina itu areanya ndak bisa diperluas,” katanya. (Hb)