BeritaJAWA TIMURMaduraSumenep

Kandidat Doktor Unisma Gelar Pengabdian Masyarakat Melalui Pelatihan Moderasi Agama

29
×

Kandidat Doktor Unisma Gelar Pengabdian Masyarakat Melalui Pelatihan Moderasi Agama

Sebarkan artikel ini

Sumenep, Globalindo.net — Tim Kandidat Doktor Pendidikan Agama Islam (PAI) Universitas Islam Malang (UNISMA) menggelar kegiatan Doktor Mengabdi dengan mengangkat tema “Penguatan Pendidikan Islam Multikultural melalui Pelatihan Moderasi Beragama”.Kegiatan tersebut bertempat di Pondok Pesantren Raudhatut Thalibin, Kolor, Kabupaten Sumenep, Jawa Timur sebagai bentuk komitmen akademisi dalam memperkuat nilai-nilai toleransi, inklusivitas, dan pemahaman keagamaan yang ramah di lingkungan pesantren.

Narasumber yang hadir dalam kegiatan pelatihan dna pemaparan materi tersebut merupakan Tokoh penting
utama serta tokoh kemasyarakatan yaitu
H. Dul Siam, S.Ag., M.Pd. (Pimpinan DPRD Kabupaten Sumenep)
Nur Kholis Majid, S.Pd., M.Pd. (Pengasuh Ponpes Salafiyah Syafi’iyah Nurul Islam, Sapeken) dan Raudlatun, S.HI., M.Pd.I.

Tujuan kegiatan pelatihan kali ini Fokus pada penguatan nilai multikultural dan menanamkan kesadaran pentingnya keberagaman budaya dan pemikiran dalam bingkai ajaran Islam.

Selain itu, Pelatihan moderasi beragama ini bertujuan untuk membekali santri dan pengajar pesantren dengan pemahaman keagamaan yang moderat (wasathiyah), jauh dari ekstremisme maupun liberalisme. Hal ini tentunya diharapkan sinergi antara Akademisi, Pesantren, dan Pemerintah untuk menggalang kolaborasi antara universitas (UNISMA), tokoh wakil rakyat (DPRD Sumenep), dan pimpinan pesantren lokal dalam merawat kerukunan umat.

Melalui pelatihan moderasi beragama ini tentunya akan memberikan berbagai manfaat strategis, baik bagi santri, pengajar, pesantren, maupun masyarakat luas. Maka, Melalui penguatan pendidikan multikultural dapat membentuk pola pikir Moderat (Wasathiyah) Sehingga juga dapat membantu santri memahami ajaran Islam yang ramah, santun, dan seimbang, serta menghindarkan mereka dari pemahaman ekstrem.

Maka dari itu, Dengan menumbuhkan sikap toleransi dan Inklusif juga dapat melatih santri untuk menghargai perbedaan tradisi, budaya, maupun pandangan keagamaan yang ada di masyarakat multikultural.

Namun, Santri harus mempunyai keterampilan Literasi Digital supaya santri memiliki kemampuan menyaring informasi atau narasi keagamaan provokatif yang beredar di media sosial.

Manfaat kegiatan pelatihan ini tentunya akan berdampak positif bagi Pondok Pesantren (Ponpes Raudhatut Thalibin) karena dapat berpengaruh pada kurikulum Pesantren dengab memperkaya khazanah pembelajaran pesantren dengan wawasan multikulturalisme tanpa menghilangkan identitas ke-Islaman dan ke-pesantrenan.”

Pewarta: HR

Tinggalkan Balasan