SUMENEP,Globalindo.net – Langit senja Bluto semakin gelap bersiap menuju gulita malam. Di saat yang bersamaan, kemilau lampu warna-warni mulai menyala menerangi dan menambah semarak wahana pasar malam di tanah lapangan Sepakbola di kawasan Kecamatan Bluto, Kabupaten Sumenep.
Bising jedhag-jedhug menggelegar mengundang pengunjung mendekat ke wahana hiburan rakyat ini. Banyak anggapan zaman telah berubah, selera bergeser. Namun, sepertinya pasar malam jalanan tidak akan pernah kehilangan penikmatnya. Daya pikat hiburan rakyat ini masih sulit ditolak oleh sejumlah kalangan.
Dermulen, mungkin anak muda masa kini mulai asing dengan kata tersebut. Kata tersebut adalah salah satu kata serapan dari bahasa belanda yaitu “draaimolen yang berarti bianglala atau komedi putar” begitulah asal muasal kata dermulen dari berbagai sumber yang aku baca.
Jaman dahulu masyarakat didaerahku kadang juga menyebut pasar malam dengan sebutan dermulen, karena memang disetiap acara pasar malam terdapat wahana permainan bianglala maupun komedi putar yang saat itu sedang digandrungi oleh anak-anak dan berebut untuk menaikinya.
Dermulen biasanya hadir dalam berbagai acara rakyat semisal Nayup (tayub) atau acara bersih desa maupun acara maulud nabi yang memang biasanya dirayakan cukup meriah di daerah Kabupaten Sumenep. Saat aku kecil acara ini memang paling aku nanti bukan karena ingin menaiki wahananya namun banyak sekali pedagang mainan dan makanan yang turut serta meramaikannya.
Malam ini memang dengan sengaja aku menyempatkan diri untuk merasakan lagi atau bisa dibilang bernostalgia merasakan kembali euforia pasar malam yang sudah lama tidak ku jumpai. Acara pasar malam di gelar di Lapangan sepak bola Kecamatan Bluto.
Memasuki area pasar malam rasanya seperti terlempar jauh kembali ke tahun era 2000an. Mengingat-ingat memory saat diriku kecil digandeng oleh ibu untuk sekadar membeli mainan perahu otok ataupun hanya membeli permen kapas, namun suasana itu berbeda drastis dengan jaman dahulu.
Pasar malam yang dahulunya ramai dengan kerlap kerlip lampu seakan meredup ditelan zaman. Hanya ada beberapa orang yang berkunjung saat itu. bahkan arena bianglala, rumah hantu maupun tempat undian terlihat sepi. Para pedagang juga tidak banyak beraktifitas, hanya memandangi area kosong yang terhampar didepannya.
PEWARTA : WWN












