JAWA TIMURSumenep

Momen Haru di Ujung Ramadan: Musahnan Nikahkan Putrinya Sendiri, Akad Penuh Makna di Sumenep

86
×

Momen Haru di Ujung Ramadan: Musahnan Nikahkan Putrinya Sendiri, Akad Penuh Makna di Sumenep

Sebarkan artikel ini

Sumenep, Globalindo.net — Di penghujung bulan suci Ramadan 1447 Hijriah, suasana haru menyelimuti prosesi akad nikah putri kedua Ketua MP3S, Musahnan. Momen sakral ini terasa makin spesial karena berlangsung menjelang Hari Raya Idulfitri, dengan nuansa religius yang begitu kental.

Akad nikah pasangan Okta dan Ihan digelar di kediaman keluarga di Jalan dr. Cipto, Desa Pabian, Kecamatan Kota, Kabupaten Sumenep, Jumat (20/03/2026). Acara ini dihadiri keluarga besar, kerabat, hingga masyarakat sekitar yang ikut menjadi saksi kebahagiaan kedua mempelai.

Yang bikin momen ini beda dari biasanya, Musahnan nggak cuma hadir sebagai ayah pengantin perempuan, tapi juga langsung memimpin prosesi akad nikah, mewakili penghulu kota. Peran ganda ini jelas menghadirkan suasana emosional—seorang ayah yang secara langsung menikahkan putrinya.

“Ini momen yang sangat sakral bagi kami. Sebagai orang tua, pasti ada rasa haru yang nggak bisa diungkapkan, apalagi saya juga dipercaya memimpin akadnya,” ungkap Musahnan usai prosesi.

Ijab kabul berjalan lancar dan khidmat. Ihan berhasil mengucapkan janji suci dalam satu tarikan napas, disambut doa dan rasa syukur dari para tamu yang hadir.

Suasana makin terasa hangat dengan tausiyah dari penghulu kota, Marwan, yang menekankan pentingnya membangun rumah tangga dengan dasar iman, kesabaran, dan tanggung jawab.

Sementara itu, perwakilan keluarga, Abd Azis, juga menyampaikan doa dan harapan agar pasangan ini mampu menjaga keharmonisan rumah tangga ke depannya.

Musahnan menegaskan, pernikahan bukan sekadar seremoni, tapi awal perjalanan panjang yang harus dijalani dengan komitmen dan nilai-nilai agama.

“Kami berharap mereka bisa membangun keluarga sakinah, mawaddah, warahmah. Apalagi ini di akhir Ramadan, semoga jadi awal yang penuh berkah,” ujarnya.

Ia juga berpesan agar pasangan pengantin selalu menjaga komunikasi dan saling menguatkan dalam setiap kondisi.

“Rumah tangga itu butuh sabar, ikhlas, dan komunikasi. Kami hanya bisa mendoakan semoga mereka mampu menjalaninya dengan baik,” tutupnya.

Digelar di penghujung Ramadan, pernikahan ini jadi simbol kebahagiaan ganda—menyambut hari kemenangan sekaligus menyatukan dua insan dalam ikatan suci.”

Pewarta: Eka/HR