JAWA TIMURSumenep

PEGAWAI “SEPARUH NAFAS” – HARAPAN BAJU LEBARAN MENJELANG HARI RAYA

112
×

PEGAWAI “SEPARUH NAFAS” – HARAPAN BAJU LEBARAN MENJELANG HARI RAYA

Sebarkan artikel ini

Opini oleh Holib Rahman

Sumenep, Globalindo.net – Menjelang Hari Raya Idul Fitri, suasana kegembiraan mulai terasa di berbagai penjuru. Namun bagi sebagian pegawai, terutama mereka yang berstatus PPPK paruh waktu, suasana tersebut seringkali diiringi perasaan bercampur antara harapan dan kegelisahan.

Istilah “pegawai separuh nafas” mungkin terasa tepat untuk menggambarkan kondisi tersebut. Sebutan ini menjadi kiasan bagi PPPK paruh waktu yang bekerja dan mengabdi dalam pelayanan publik, namun dengan keterbatasan penghasilan serta fasilitas yang tidak selalu sama dengan pegawai penuh waktu.

Di satu sisi, ada harapan besar untuk bisa merayakan lebaran dengan layak: berkumpul bersama keluarga, bertemu sanak saudara yang jarang ditemui, serta menghadirkan kebahagiaan sederhana seperti mengenakan baju lebaran baru. Bagi banyak orang, baju lebaran bukan sekadar pakaian, tetapi simbol kebahagiaan dan semangat baru setelah menjalani setahun penuh perjuangan hidup.

Namun di sisi lain, realitas ekonomi menjelang lebaran sering kali menjadi tantangan. Pengeluaran tidak hanya untuk pakaian, tetapi juga untuk kebutuhan makanan lebaran, berbagi dengan keluarga, serta berbagai kebutuhan rumah tangga lainnya.

Bagi para PPPK paruh waktu, kondisi ini sering dirasakan lebih berat. Karena itu, banyak dari mereka berharap adanya perhatian dari pemerintah daerah berupa pemberian Tunjangan Hari Raya (THR) sebagai bentuk penghargaan atas pengabdian mereka dalam membantu jalannya pelayanan publik.

Harapan tersebut bukan semata soal tambahan penghasilan, melainkan juga tentang rasa dihargai dan diperhatikan. Sebab di balik status paruh waktu, ada tanggung jawab dan pengabdian yang tetap dijalankan dengan penuh kesungguhan.

Pada akhirnya, lebaran bukan hanya tentang kemewahan, tetapi tentang kebersamaan dan martabat. Bagi para pegawai “separuh nafas” ini, harapan sederhana seperti mampu membelikan baju lebaran untuk keluarga menjadi simbol kecil dari kebahagiaan yang ingin mereka rasakan bersama orang-orang tercinta.”