Opini oleh: Holib Rahman
Sumenep, Globalindo.net – Di sekolah dasar, terjadi sebuah kisah yang mungkin menjadi gambaran kecil tentang bagaimana kebijakan pelayanan di sekolah bisa berdampak pada perasaan seorang anak. Ada seorang siswa yang tidak bisa masuk sekolah pada hari pembagian Makanan Tambahan untuk Siswa (MBG). Seperti yang biasanya dilakukan untuk teman-temannya yang tidak masuk, dia berharap bagian MBG-nya bisa dititipkan kepada teman dekatnya agar bisa diterima di rumah. Dan rupanya, hal itu juga berhasil dilakukan seperti pada kasus siswa lain.
Namun, cerita ini membawa kita pada sebuah pertanyaan penting: apakah setiap anak memang sudah mendapatkan hak yang sama untuk menerima MBG, tanpa memandang apakah mereka hadir di sekolah saat pembagian atau tidak?
MBG bukan hanya sekadar makanan, tetapi bagian dari upaya pemerintah untuk memenuhi kebutuhan gizi anak sekolah agar mereka bisa belajar dengan baik dan tumbuh kembang optimal. Setiap siswa yang terdaftar dan berhak mendapatkan bantuan ini seharusnya tidak merasa ditinggalkan hanya karena tidak bisa hadir di hari tertentu.
Praktik yang dilakukan di sekolah dasar untuk menitipkan MBG kepada teman siswa yang tidak masuk adalah langkah yang tepat dan manusiawi. Hal ini menunjukkan bahwa sekolah memahami bahwa kondisi anak-anak bisa berbeda-beda – terkadang mereka harus tidak masuk karena sakit, urusan keluarga mendesak, atau alasan lain yang tidak bisa dihindari. Menolak memberikan bagian MBG hanya karena tidak hadir akan menyia-nyiakan tujuan utama program ini, yaitu memberikan dukungan gizi kepada seluruh siswa yang berhak.
Perlu juga dipastikan bahwa kebijakan seperti ini menjadi standar yang konsisten diterapkan di semua sekolah. Tidak boleh ada kasus di mana satu siswa mendapatkan bagian MBG yang dititipkan, sementara yang lain tidak, hanya karena perbedaan penanganan dari pihak sekolah. Komunikasi yang jelas antara sekolah, orang tua, dan siswa juga penting agar setiap anak tahu bagaimana cara mendapatkan bagian MBG mereka jika tidak bisa masuk sekolah.”












