BandungBeritaEkonomiJawa Barat

BBM Campuran Etanol, Hemat Energi dan Emisi? Simak Penjelasan Lengkap dari Pakar UMM

147
×

BBM Campuran Etanol, Hemat Energi dan Emisi? Simak Penjelasan Lengkap dari Pakar UMM

Sebarkan artikel ini

BANDUNG, Globalindo.Net – Rencana penggunaan etanol sebagai campuran bahan bakar minyak (BBM) jenis bensin terus menjadi perbincangan hangat. Langkah ini dianggap penting untuk mendukung transisi energi dan menekan emisi karbon. Namun, di sisi lain, masyarakat juga menyampaikan kekhawatiran terkait dampaknya pada mesin kendaraan, Selasa 18 November 2025

Etanol merupakan energi alternatif berbasis bio dari tanaman yang sudah diolah. Etanol sangat baik untuk meningkatkan angka oktan, Hal itu seperti yang di jelaskan oleh dosen Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Iis Siti Aisyah, Sebagai sumber energi terbarukan. Etanol punya sejumlah keunggulan, Salah satunya adalah angka oktan yang tinggi, lebih dari 100, jauh melampaui Pertalite yang hanya 92.

Hal ini membuat etanol lebih tahan terhadap knocking atau ngelitik, sehingga ideal untuk mesin modern dengan tingkat kompresi tinggi.

Di Indonesia, produksi etanol berpotensi besar karena bahan bakunya dari tanaman tebu yang sudah luas dibudidayakan. “Tingkat komersialisasi etanol di Indonesia sudah cukup tinggi,” ujar Iis.

Meski begitu, ada beberapa tantangan teknis dan ekonomi yang harus dihadapi. Tantangan utama berasal dari sifat etanol yang higroskopis, alias mudah menyerap air. Penggunaan etanol dalam jangka panjang dapat merusak komponen ruang bakar seperti karet dan menyebabkan korosi pada logam yang tidak tahan terhadap air.

Selain itu, etanol memiliki densitas energi yang lebih rendah, yakni 26,8 MJ/kg dibandingkan bensin yang mencapai 46 MJ/kg. Dengan demikian, menambahkan etanol pada Pertalite akan menurunkan nilai energi per liter campuran.Proses pemurnian etanol agar benar-benar bebas air (anhidrat) membutuhkan teknologi mahal. Akibatnya, harga etanol saat ini masih sedikit lebih tinggi dibanding Pertalite atau Pertamax, sehingga diperlukan insentif supaya bisa lebih kompetitif di pasar.

Kekhawatiran terbesar masyarakat berada pada dampak etanol terhadap mesin kendaraan, terutama kendaraan “Lawas” yang menggunakan karburator.

Iis menjelaskan, campuran etanol dan Pertalite memang tidak disarankan untuk mesin lama karena berisiko menyebabkan kebutuhan penyetelan ulang dan overheating dalam jangka panjang.

Namun, berdasarkan hasil penelitian, campuran etanol hingga 10% (E10) tidak berdampak signifikan pada mesin lama, termasuk yang masih memakai karburator, katanya.

Sementara itu, mesin modern yang sudah dilengkapi Electronic Control Unit (ECU) mampu menyesuaikan sistem pembakaran secara otomatis, sehingga modifikasi hanya diperlukan jika menggunakan 100% etanol. Melihat masa depan, Iis optimistis potensi etanol di Indonesia cukup cerah, terutama dibandingkan sumber energi lain seperti biobutanol yang industrinya belum berkembang sebesar etanol.

Namun, ia menegaskan satu syarat penting agar kemandirian energi bisa tercapai, yaitu pasokan etanol harus berasal dari sumber dalam negeri. “Penggunaan bahan bakar dalam skala besar harus didukung dengan pasokan etanol yang besar pula. Harapan ke depan adalah kita bisa lebih mandiri dalam energi dengan memanfaatkan sumber yang ada di tanah air,” tutupnya.**

(RF).