Kabupaten BandungBeritaJawa Barat

Ujat Generasi Petani Tradisional Sukasari, Bertahan Ditengah Tantangan

333
×

Ujat Generasi Petani Tradisional Sukasari, Bertahan Ditengah Tantangan

Sebarkan artikel ini

KAB BANDUNG, Globalindo.Net – Siang itu lumayan panas, matahari belum juga capai kulminasi. Para petani sudah sibuk di pematang sawah. Sebagian besar bekerja rontokin bulir padi dengan cara ‘gebug’, lainya ngumpulin bulir-bulir padi, masukin kedalam karung.

Panasnya hari tidak mengurangi semangat, mereka terus bekerja dan berharap ada perubahan kelak ketika bulir-bulir padi ini berpindah tangan ke penjual. Mudah-mudahan, ucap mereka.

Tapi fakta dilapangan berkata lain, kini hampir semua produk pertanian seringkali mengalami fluktuasi harga, tidak terkecuali harga padi kering giling.

Jika diamati seksama ada beberpa factor penyebab harga tidak stabil seperti kelebihan produksi, persaingan pasar yang tidak sehat, dan minimnya infrastruktur penyimpanan.

Lemahnya pengetahuan terkait tata kelola, rantai pasok pupuk serta teknologi pertanian selama ini selalu menjadi kendala kenapa para petani masih tidak beranjak berubah.

Seperti halnya yang dialami Ujat 72 petani Sukasari, Kabupaten Bandung. Ujat adalah satu diantara generasi petani tradisional yang masih semangat bekerja mengolah sawah. Baginya hanya bersawah saja yang bisa dilakukan, pekerjaan ini sudah turun temurun di jalani dari kakek buyutnya.

Ujat menuturkan bertani kini sangat sulit. Dirinya mengalami banyak sekali hambatan. “Bicara sehari-hari kebutuhan untuk makan dengan mengandalkan dari bertani, sangat susah,” keluhnya saat ditemui GLOBALINDO pada Selasa (05/8/2025).

Menjadi petani bukan sesuatu yang mudah bagi Ujat di tengah perekonomian sedang menurun, petani asal Sukasari, Andir Kabupaten Bandung itu mengungkapkan bahwa petani harus menghadapi kondisi yang tidak menentu untu memenuhi kebutuhan sehari-hari, bahkan sering kekurangan.

Kondisi perekonomian Ujat sama halnya perekonomian para petani Indonesia pada umumnya yang hidup di bawah garis kemiskinan. Ia harus berjuang keras untuk mencukupi hidup dan kebutuhan lainnya.

Dia sendiri tak habis pikir, pertanian sebagai sektor utama penyangga ketahanan pangan nasional, namun nasib petani seolah tidak dihiraukan. Nyaris tidak ada perlindungan pemerintah terhadap   para petani.

“aturan pemerintah, misalnya harga padi rendah tidak diperhatikan. Pemerintah kurang memerhatikan nasib petani, karena harga beras direndahkan saat panen. Kurang semua (perhatian pemerintah), saat waktu memupuk tanaman, pupuk mahal dan langka,” tambah Ujat.

 

Galih