KAB.BANDUNG, JABAR
Gobaindo.Net//Pekerjaan mulia para guru ngaji terkadang luput dari perhatian kita semua. Mereka rela menyita waktu demi mendidik ilmu dasar agama, kepada murid-muridnya. Dengan harapan kelak, ilmu tersebut dapat menjadi pondasi kuat yang menuntunnya kepada jalan kebaikan bagi diri pribadi, keluarga, agama dan bangsa
Meskipun diketahui, para guru ngaji itu bekerja tanpa pamrih, tanpa gaji maupun honor. Di balik semua itu, sebenarnya apa yang dibaktikan oleh guru-guru ngaji turut membantu pula pekerjaan pemerintah. Di mana terbangun suatu upaya, bahwa segenap masyarakat harus pula mendapatkan pendidikan dasar agama, mendampingi pendidikan umum.
Dede Juanda (46) warga Desa Andir, Kecamatan Beleendah Kabupaten Bandung, mengaku mengajar ngaji anak-anak dilakukannya tanpa meminta imbalan sepeser pun. Dia hanya mencari ridha untuk mencetak generasi muda yang berahlak baik.
“Saya mengajar ngaji sejak tahun 2022 lalu, sebab sudah lama tidak ada TPQ di sini, jadi saya berinisiatif meluangkan waktu untuk mengajar ngaji anak-anak,” ujar pria kelahiran Tasikmalaya itu.
Dia mengaku muridnya memang tak terlalu banyak, tapi ia tetap konsisten mengajar anak-anak agar tak hanya bisa membaca, namun juga berakhlak sebagaimana diajarkan dalam Alquran. Ia bekerja keras mendidik anak-anak, walau bayarannya sebagai guru mengaji hanya ucapan terima kasih.
“Merosotnya moral anak anak zaman sekarang membuat saya terpanggil, banyak dari orang tua zaman sekarang yang tidak memperdulikan pengetahuan soal agama pada anaknya, itulah yang membuat saya khawatir dengan keadaan anak-anak nanti di masa depan,” pungkasnya.
Keberadaan guru ngaji di tengah-tengah masyarakat kerap menjadi harapan kita semua, hampir semua orang tua menginginkan anaknya mengerti dasar agama, minimal bisa baca tulis alquran, namun demikian keberadaan para guru ngaji seringkali kita abaikan.
Terlepas sikap sukarela para guru ngaji tersebut, namun sepantasnya keberadaan mereka tetap harus diperhatikan, dalam lingkungan terkecil RT dan RW keberadaan guru ngaji bisa menjadi bagian dari kepengurusan untuk urusan mental dan spriritua anak-anak dilingkungan setempat.
Upaya pelembagaan tersebut dalam rangka mengayomi kedua belah pihak, satu sisi kesejahteraan guru ngaji dan di sisi lain ikut berperan dalam pembangunan mental spiritual warga terutama anak-anak.
Galih












