EkonomiBeritaBerita utamaNasional

Deflasi Dialami Indonesia Pada Dua Bulan Terakhir, Kelompok Makanan Dan Minuman Penyumbang Terbesar

580
×

Deflasi Dialami Indonesia Pada Dua Bulan Terakhir, Kelompok Makanan Dan Minuman Penyumbang Terbesar

Sebarkan artikel ini

JAKARTA – NASIONAL

Globalindo.Nett // Indonesia mengalami deflasi secara bulanan pada Mei dan Juni 2024.  Kelompok penyumbang deflasi terbesar adalah makanan, minuman, dan tembakau dengan deflasi 0,29 persen dan andil 0,08 persen.

Hal itu menurut catatan Badan Pusat Statistik (BPS) deflasi pada Mei sebesar 0,03 persen, Sementara itu, deflasi Juni tercatat 0,08 persen secara bulanan (mont to mont/mtm).

Kelompok pengeluaran penyumbang deflasi bulanan terbesar adalah makanan minuman dan tembakau dengan deflasi sebesar 0,49 persen dan memberikan andil deflasi sebesar 0,14 persen.

Sedangkan apa yang dimaksud dengan deflasi itu ?

Deflasi merupakan fenomena penurunan harga dalam suatu wilayah. Penyebab terjadinya deflasi sendiri, adalah permintaan barang turun, sedangkan produksi meningkat.

Penyebab permintaan turun, disebabkan pelambatan kegiatan ekonomi yang berdampak ke penghasilan yang turun sehingga jumlah uang beredar pun menjadi berkurang, Hal tersebut dilansir dari berbagai sumber.

Analis Senior Indonesia Strategic and Economic Action Institution Ronny P Sasmita mengatakan, deflasi bisa menjadi kabar baik tetapi juga bisa menjadi sinyal peringatan.

Dari sisi harga, masyarakat menjadi senang jika harga mulai stabil atau kenaikannya sangat minor karena akan membuat disposal income atau pendapatan yang dapat dibelanjakan semakin berdaya beli.

Namun dari sisi makro, melandainya harga karena sisi permintaan turun menjadi sinyal peringatan bagi pemerintah, karena berpotensi menurunkan kontribusi konsumsi rumah tangga pada pertumbuhan ekonomi. Jika konsumsi rumah tangga turun maka akan menekan angka pertumbuhan ekonomi.

Kemudian dari sisi investasi, pelemahan permintaan juga menjadi sinyal peringatan. Ronny mengatakan investor akan berpikir ulang untuk melakukan investasi baru atau ekspansi usaha jika permintaan melemah.

Pasalnya prospek investasi menjadi suram jika permintaan kurang bagus karena tidak menjanjikan keuntungan.

Buat apa investor buka usaha baru, bikin produk baru, jual rumah baru, mobil baru, jika permintaan lemah. Jadi ini sinyal warning buat pemerintah dan dunia usaha, meskipun sinyal bagus buat konsumen.