JakartaDepok

Ruang Damai Soroti Pentingnya Bahasa dan Literasi untuk Membangun Perdamaian

61
×

Ruang Damai Soroti Pentingnya Bahasa dan Literasi untuk Membangun Perdamaian

Sebarkan artikel ini

DEPOK, Globalindo.net – Membangun kehidupan yang damai di tengah keberagaman membutuhkan cara berkomunikasi yang bijak dan kemampuan memahami informasi secara kritis. Pemilihan kata, pemahaman terhadap konteks, hingga kebiasaan menyaring informasi menjadi hal penting untuk menciptakan interaksi yang saling menghargai, baik di lingkungan sosial maupun ruang digital.

Persoalan tersebut diangkat Yayasan Ruang Damai melalui kegiatan Bincang Damai bertajuk “Bahasa dan Literatur dalam Membangun Budaya Perdamaian” yang berlangsung secara daring melalui Zoom Meeting, Kamis (15/10/2026). Diskusi ini menghadirkan Dian Purnomo, penulis dan peneliti, serta AKP Irsal Lathief Hamdani dari Direktorat Pencegahan Densus 88 Polri.

Direktur Eksekutif Yayasan Ruang Damai, Zainal Abidin, menyampaikan bahwa bahasa memiliki pengaruh besar terhadap kehidupan masyarakat. Cara seseorang menyampaikan pesan tidak hanya menentukan kelancaran komunikasi, tetapi juga dapat membangun rasa saling memahami dan kepedulian terhadap sesama.

“Kata-kata juga dibangun untuk menumbuhkan empati dan rasa saling peduli satu sama lain,” ungkap Zainal.

Dian Purnomo menjelaskan bahwa masyarakat Indonesia memiliki latar belakang budaya yang beragam. Kondisi tersebut membuat suatu kata atau ungkapan bisa memiliki arti berbeda bagi setiap orang. Oleh sebab itu, memahami situasi dan konteks pembicaraan menjadi langkah penting untuk menghindari kesalahpahaman.

“Untuk membangun budaya damai, tentu kita harus lebih melek soal literasi, tidak hanya langsung memaknai kata itu secara cepat di tengah gempuran teknologi dan AI,” tuturnya.

Menurut Dian, kemampuan berliterasi juga perlu ditumbuhkan sejak lingkungan keluarga. Orang tua dapat membangun kebiasaan berdiskusi bersama anak, memberikan ruang untuk bertukar pikiran, serta mengurangi waktu penggunaan gawai agar komunikasi langsung tetap terjaga. Kebiasaan ini dapat membantu anak mengembangkan pola pikir kritis dan memahami sudut pandang orang lain.

Di sisi lain, AKP Irsal Lathief Hamdani menyoroti penyebaran narasi ekstrem di ruang digital yang dapat dikemas dalam konten ringan dan menghibur. Konten semacam ini menjadi tantangan tersendiri, terutama bagi anak dan remaja. Penguatan literasi digital, kemampuan berpikir kritis, lingkungan pergaulan yang positif, serta empati sosial diperlukan agar masyarakat lebih cermat mengenali pesan yang diterima.

Melalui kegiatan ini, Ruang Damai mendorong masyarakat untuk menjadikan bahasa sebagai sarana membangun hubungan yang sehat, bukan memperlebar perbedaan. Kesadaran memahami makna, memeriksa informasi, dan menghargai keberagaman diharapkan dapat memperkuat budaya perdamaian dalam kehidupan sehari-hari maupun di ruang digital.

Pewarta: Akbar Trio Mashuri

Tinggalkan Balasan