BeritaJawa Barat

Investasi Hilirisasi Tembus Rp147,5 Triliun di Triwulan I, Nikel Jadi Penyumbang Terbesar

16
×

Investasi Hilirisasi Tembus Rp147,5 Triliun di Triwulan I, Nikel Jadi Penyumbang Terbesar

Sebarkan artikel ini

JAKARTA,Globalindo.net – Kementerian Investasi/Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) mencatat capaian positif di sektor hilirisasi. Pada periode Triwulan I tahun 2026, total realisasi investasi di sektor ini mencapai Rp 147,5 triliun, atau tumbuh 8,2% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya yang tercatat sebesar Rp 136,3 triliun.

Angka tersebut menyumbang sekitar 29,6% dari total realisasi investasi nasional yang mencapai Rp 498,8 triliun di awal tahun ini.

“Kontribusi dari investasi sektor yang berhubungan dengan hilirisasi cukup signifikan dan bisa semakin meningkat ke depannya,” kata Menteri Investasi/Kepala BKPM, Rosan Perkasa Roeslani, dalam konferensi pers di Jakarta, Kamis (23/04/2026).

Dari total nilai investasi hilirisasi tersebut, sektor mineral menjadi yang terbesar dengan realisasi mencapai Rp 98,3 triliun. Adapun rinciannya adalah:

Nikel: Rp 41,5 triliun
Tembaga: Rp 20,7 triliun
Besi Baja: Rp 17,0 triliun
Bauksit: Rp 13,7 triliun
Timah: Rp 2,5 triliun
Lainnya: Rp 2,9 triliun

Selanjutnya, sektor perkebunan dan kehutanan juga menunjukkan geliat positif dengan realisasi sebesar Rp 29,8 triliun, dengan rincian:

Kelapa sawit: Rp 18,3 triliun
Kayu log: Rp 7,0 triliun
Karet: Rp 2,4 triliun
Lainnya: Rp 2,1 triliun

“Kita menginginkan investasi ke hilirisasi perkebunan dan kehutanan juga meningkat,” ucap Rosan.

Sementara itu, investasi di sektor minyak dan gas bumi (migas) tercatat sebesar Rp 17,7 triliun, yang terdiri dari minyak bumi Rp 13,6 triliun serta gas bumi Rp 4,1 triliun.

Di posisi terakhir, sektor perikanan dan kelautan menyerap investasi sebesar Rp 1,7 triliun yang mencakup komoditas garam, ikan TCT (tuna, cakalang, tongkol), udang, rumput laut, rajungan, hingga tilapia.

“Kita melihat investasi hilirisasi perikanan dan kelautan bisa meningkat pada semester depan,” tambahnya optimis.

Secara geografis, pembangunan industri hilir ini mayoritas berlokasi di luar Jawa, mencapai 75,5% atau setara Rp 111,4 triliun.

Lima wilayah dengan realisasi terbesar adalah:

1. Sulawesi Tenggara: Rp 24,1 triliun
2. Maluku Utara: Rp 18,6 triliun
3. Jawa Barat: Rp 13,0 triliun
4. Nusa Tenggara Barat: Rp 12,9 triliun
5. Kepulauan Riau: Rp 9,6 triliun

Data ini menunjukkan bahwa upaya pemerintah untuk memindahkan pusat pertumbuhan ekonomi dan industri pengolahan ke luar Pulau Jawa mulai menunjukkan hasil yang nyata.”

Pewarta:Eka-HR

Tinggalkan Balasan