JAWA TIMURSumenep

Di Antara Gejolak Dunia dan Sunyinya Suara Kampus.

82
×

Di Antara Gejolak Dunia dan Sunyinya Suara Kampus.

Sebarkan artikel ini

Opini
Oleh ; Riyadi

Sumenep, Globalindo.Net ~ Di tengah pusaran konflik dunia ketegangan antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran pertanyaan kembali mengemuka: ke manakah arah sikap Indonesia? Apakah negeri ini akan mengambil posisi yang tegas untuk menyuarakan perdamaian dunia, atau sekadar berdiri sebagai penonton yang menyaksikan sejarah berjalan tanpa keberanian untuk bersuara?

Namun di balik riuhnya persoalan global itu, ada pertanyaan yang jauh lebih dekat dan mendesak: sudahkah negeri sendiri benar-benar dipikirkan? Sebab percuma berbicara tentang perdamaian dunia jika keadilan di rumah sendiri masih kerap terasa jauh dari rakyat.

Kebijakan demi kebijakan terus lahir dari ruang-ruang kekuasaan. Tetapi pertanyaannya tetap sama: apakah ia benar-benar lahir dari kebutuhan rakyat, atau justru lebih sering tumbuh dari kepentingan segelintir orang yang memegang kendali? Ketika kebijakan terasa jauh dari rasa keadilan masyarakat, maka kritik bukan lagi sekadar pilihan ia menjadi kebutuhan.

Tidak mengherankan jika dalam berbagai peristiwa, mahasiswa dan masyarakat sering kali harus turun ke jalan. Demonstrasi, kritik publik, dan suara protes bukanlah kegaduhan tanpa makna. Ia adalah bahasa terakhir ketika ruang dialog terasa semakin sempit.

Dalam situasi seperti inilah kampus seharusnya memainkan perannya. Kampus bukan sekadar tempat mencetak ijazah, tetapi ruang yang melahirkan kesadaran. Mahasiswa tidak hadir hanya untuk datang ke kelas, mengisi absensi, lalu pulang dengan pikiran yang tidak pernah benar-benar dipertanyakan.

Sayangnya, realitas hari ini menunjukkan sesuatu yang lain. Di tengah derasnya arus dunia digital, tidak sedikit mahasiswa yang justru tenggelam dalam rutinitas menggulir layar TikTok, velocity, dan berbagai distraksi yang membuat kesadaran sosial perlahan memudar. Ketika layar menjadi lebih menarik daripada realitas, maka perubahan hanya akan tinggal sebagai wacana yang terus diulang tanpa keberanian untuk mewujudkannya.

Padahal sejarah tidak pernah digerakkan oleh generasi yang hanya menjadi penonton. Sejarah digerakkan oleh mereka yang berpikir lebih jauh, bersuara lebih lantang, dan berani berdiri ketika banyak orang memilih diam.

Karena pada akhirnya, mahasiswa bukan sekadar peserta perkuliahan. Mahasiswa adalah penyambung lidah rakyat. Dan ketika suara rakyat mulai kehilangan ruangnya, mahasiswa tidak boleh ikut kehilangan keberanian untuk berbicara.