Sumenep, Globalindo.net — Wacana Indonesia Emas 2045 kembali menjadi sorotan seiring masih rendahnya kesejahteraan guru honorer di berbagai daerah. Di tengah dorongan peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM), sebagian pendidik masih menerima honor yang jauh dari standar kebutuhan hidup layak.
Data dan pengakuan guru honorer di sejumlah daerah menunjukkan bahwa honor bulanan yang diterima bervariasi, bahkan ada yang berada di kisaran ratusan ribu rupiah. Kondisi ini dinilai kontras dengan beban kerja guru yang mencakup kegiatan belajar-mengajar, administrasi, serta tanggung jawab pembinaan karakter peserta didik.
Pengamat pendidikan menilai persoalan tersebut bukan semata-mata soal kemampuan fiskal negara, melainkan cerminan dari prioritas kebijakan.
“Jika pendidikan diposisikan sebagai fondasi pembangunan jangka panjang, maka kesejahteraan guru seharusnya menjadi perhatian utama,” ujar seorang analis kebijakan pendidikan, Rabu (28/02/25).
Ia menambahkan, rendahnya penghargaan terhadap guru berpotensi menurunkan minat generasi muda berprestasi untuk memilih profesi pendidik. Dalam jangka panjang, hal ini dikhawatirkan berdampak pada kualitas pembelajaran dan daya saing bangsa.
Di sisi lain, pemerintah terus mendorong berbagai program peningkatan mutu pendidikan, mulai dari pembaruan kurikulum, digitalisasi sekolah, hingga pembangunan infrastruktur pendidikan. Namun, sejumlah pihak menilai kebijakan tersebut belum sepenuhnya diimbangi dengan perbaikan kondisi ekonomi pendidik, khususnya guru honorer.
Seorang guru honorer di Jawa Timur mengungkapkan bahwa sebagian rekannya terpaksa mencari pekerjaan tambahan untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari.
“Mengajar tetap dijalani karena tanggung jawab moral, tetapi secara ekonomi sangat berat,” katanya.
Kondisi tersebut juga dinilai berkontribusi pada fenomena keluarnya tenaga-tenaga terdidik ke sektor lain yang dianggap lebih menjanjikan secara finansial. Padahal, guru memiliki peran strategis dalam membentuk kemampuan berpikir, karakter, dan nilai kebangsaan generasi muda.
Pengamat kebijakan publik menekankan bahwa target Indonesia Emas 2045 tidak hanya ditentukan oleh pertumbuhan ekonomi dan pembangunan fisik, tetapi juga oleh kualitas pendidikan dasar dan menengah. “Investasi pada guru adalah investasi jangka panjang yang hasilnya tidak instan, tetapi menentukan arah bangsa,” ujarnya.
Hingga kini, isu peningkatan kesejahteraan guru honorer masih menjadi pekerjaan rumah besar bagi pemerintah pusat dan daerah. Tanpa pembenahan serius, berbagai kalangan menilai visi besar Indonesia Emas berisiko menjadi sekadar slogan, sementara tantangan mendasar di sektor pendidikan tetap berulang dari tahun ke tahun.”
Pewarta:HR












