OpiniArtikelBandungBeritaJawa Barat

KDM Dan Gereja

328
×

KDM Dan Gereja

Sebarkan artikel ini

Oleh : Idat Mustari**

OPINI, Globalindo.Net – RASA-Rasanya tidak ada Gubernur Jawa Barat seperti Dedi Mulyadi yang akrab dikenal dengan sebutan KDM. Kelas Gubernur tapi popularitasnya nasional. Tentu ini dikarenakan sikap konsistensinya dalam mengunggah aktivitasnya di media sosial. Mulai dari YouTube, Instagram, hingga TikTok. Sampai pernah dapat julukan “Gubernur Konten” dari Gubernur Kalimantan Timur, Rudy Mas’ud, dalam sebuah rapat di DPR.

KDM (Kang Dedi Mulyadi) pun dianggap anti Islam oleh salah seorang warga Jakarta gara-gara mengganti nama RSUD Al Ihsan menjadi RSUD Welas Asih. Boleh jadi ada orang yang sepakat dengan orang Jakarta itu, bahwa KDM anti Islam, tetapi ada juga yang tidak sepakat, dan menganggap terlalu berlebihan jika gara-gara perubahan nama dari bahasa Arab ke bahasa sunda dianggap anti Islam.

Tidak elok mencap, menuduh, melabeli seseorang anti Islam hanya gara-gara pakai iket, bukan peci, pakai baju pangsi bukan gamis. Agama itu bukan sekedar symbol, tetapi ada yang lebih penting dari itu, yakni suara kebenaran dan kesucian, karena hal itu merupakan fitrah Allah. Agama — dalam konteks etika dan moral — posisinya sama dengan asal muasal suara kebenaran dan kesucian.Ketika seseorang tetap memegang teguhnya, maka dia akan mengejawantahkan perilaku yang baik, mulia, agung, dan luhung. Dalam Islam, inilah yang disebut dengan akhlak karimah.

Prof Nurcholis Madjid dalam “Masyarakat Religius” (2010: 90), mengatakan, agama bukanlah sekadar tindakan ritual seperti shalat dan berdoa semata. Lebih jauh dari itu, agama merupakan keseluruhan perilaku umat manusia yang dilakukan demi memperoleh ridha Tuhan, di mana perilaku tersebut membentuk keutuhan dirinya sebagai makhluk berbudi luhur (akhlak karimah).

Baru-baru ini, KDM berjanji membeli lahan gereja di Kabupaten Cianjur yang disita perbankan karena pemiliknya menunggak utang. Dedi berharap langkah ini dapat mengembalikan kegiatan peribadatan agar tetap berjalan. (CIANJUR, KOMPAS.com). Entahlah apakah akan ada orang yang menuduh KDM sebagai seorang “pluralisme agama,”gara-gara ini.

Teringat dengan kisah Khalifah Umar bin Khattab yang dapat pengaduan dari orang yahudi, yang rumahnya dirobohkan untuk perluasan pembangunan masjid oleh Amru Bin Ash gubernur Mesir .

Khalifah Umar langsung mengambil pedangnya dan membuat garis lurus di atas tulang tersebut. Setelah itu, Umar kemudian memberikan tulang itu kepada si Yahudi dan memerintahkan agar tulang itu diserahkan kepada Amru bin Ash di Mesir.

Sesampainya di Mesir, ia menyaksikan, bangunan masjid sudah mulai dikerjakan. Karena itu, ia langsung menemui Gubernur Mesir dan menyerahkan tulang tersebut. Saat tulang itu diterima Amru bin Ash, maka kagetlah ia dan memerintahkan para pekerja masjid agar menghentikan pembangunan masjid.

Tentu KDM bukan Umar Bin Khatab, dan peristiwa KDM hendak membeli tanah untuk gereja, tidak sama dengan peristiwa Khalifah umar Bin Khatab yang dapat pengaduan dari seorang yahudi. Namun, esensinya nyaris sama yakni sebagai pemimpin harus mengayomi, mengasihi, dan memperlakukan dengan keadilan bagi setiap orang tanpa membedakan apa agamanya, sukunya. Dan sikap KDM ini adalan wujud dari ajaran Islam sebagai Rahmatan Lil ‘alamin.

**Pemerhati sosial dan Keagamaan, anggota Ormas Pemuda Pancasila dan Advokat.