Kangayan-,Di tengah gelombang laut dan terpaan angin kepulauan, semangat itu tak padam. Di ujung timur Kabupaten Sumenep, Kecamatan Kangayan—meskipun menjadi yang termuda dalam peta administrasi—menyuarakan gebyar nasionalisme dengan lantang. Usia boleh muda, tapi nyala jiwa merah putih tak pernah redup.
Memasuki peringatan Hari Ulang Tahun ke-80 Republik Indonesia, Kangayan tak ingin sekadar menjadi penonton. Semangat gotong royong dan nasionalisme justru mengakar kuat di tengah masyarakat kepulauan yang jauh dari pusat kota. Camat Kangayan Nurullah, dalam sebuah seruan yang penuh harap menyampaikan ajakan kepada seluruh warganya untuk ikut berpartisipasi memeriahkan peringatan hari kemerdekaan.
“Kita boleh berdomisili di kepulauan, tapi semangat juang tetap mengalir dalam darah kita sebagai rakyat Indonesia,” ujar Camat Nurullah, SH, MH, penuh semangat saat ditemui pada Senin, 4 Agustus 2025.

Bukan Soal Letak, Tapi Soal Tekad
Letak geografis yang jauh dari pusat pemerintahan tidak menjadi alasan bagi Kangayan untuk surut langkah. Justru dari keterpencilan itu lahir tekad yang besar: tekad untuk tidak dilupakan, dan tekad untuk terus menunjukkan bahwa Kangayan adalah bagian utuh dari Republik Indonesia.
Rangkaian kegiatan mulai dari pemasangan bendera merah putih, umbul-umbul di setiap jalan desa, persiapan lomba-lomba rakyat, hingga rencana upacara bendera di titik-titik strategis tengah digagas dengan antusias oleh warga dan perangkat desa.

Simbol Rakyat, Simbol Negara
Camat Nurullah menegaskan bahwa partisipasi masyarakat dalam menyambut HUT RI bukan hanya sekadar seremoni, melainkan bentuk penghormatan kepada para pejuang yang telah mempertaruhkan nyawa. “Kemerdekaan bukan hadiah. Ia diperjuangkan. Maka kita yang mewarisinya, wajib menjaganya,” tambahnya.
Ia juga mendorong agar para pemuda di Kangayan menjadi garda terdepan dalam memeriahkan kegiatan Agustusan. “Bendera merah putih tak boleh hanya berkibar di daratan kota. Ia harus mengalir sampai pulau-pulau. Dari Jakarta sampai Kangayan, dari istana hingga pesisir. Di situlah makna Indonesia yang sejati,” ucapnya lantang.
Semangat yang Menular
Ungkapan camat muda ini mendapat sambutan hangat dari berbagai tokoh masyarakat dan pemuda. Di banyak desa, warga mulai bergotong royong menghias lingkungan mereka. Anak-anak sekolah mulai latihan upacara dan lomba. Para pemuda desa menyiapkan kegiatan malam tirakatan, pentas seni, hingga turnamen olahraga rakyat.
Kangayan kini sedang bersiap. Tidak untuk menyaingi kecamatan lain, tetapi untuk menyuarakan satu hal: bahwa mereka juga Indonesia. Bahwa kemerdekaan bukan hanya dirayakan di kota, tapi juga dijaga di pulau.
Dari Kangayan untuk Indonesia
Ketika tanggal 17 Agustus tiba, dan bendera merah putih berkibar di seluruh pelosok negeri, termasuk di tepi pantai dan dermaga Kangayan, itulah bukti nyata bahwa semangat bangsa ini tak mengenal jarak. Dari kota hingga kepulauan, dari gunung hingga laut, dari darat hingga ujung timur Sumenep—Indonesia adalah satu.
Karena di Kangayan, kemerdekaan bukan sekadar upacara.
Ia adalah nyawa.
Ia adalah kebanggaan.
Ia adalah janji yang tak akan dikhianati.
Dirgahayu Republik Indonesia ke-80!
Kangayan Hadir. Merdeka Selamanya!
Pewarta: Hariyanto/HR












