Sumenep,Laut bukan sekadar hamparan air asin. Bagi masyarakat Kepulauan Kangean, laut adalah *ibu yang memberi makan, sekolah yang mengajarkan kehidupan,* dan *warisan yang mesti dijaga untuk anak cucu.* Namun, kini laut kita tengah menangis. Tangisnya tak terdengar, tapi dampaknya kian terasa—ikan makin sulit didapat, terumbu karang rusak, dan nelayan kecil terpinggirkan.
Sumber dari kerusakan itu punya satu nama yang terus menjadi momok: porsen. Alat tangkap yang rakus, mengeruk laut tanpa ampun, menyapu bersih ikan besar dan kecil, merusak dasar laut, dan meninggalkan kehancuran ekologis dalam diam.
*Porsen Bukan Sekadar Masalah Nelayan*
Porsen bukan hanya persoalan antara sesama nelayan. Ini adalah *masalah kita bersama.* Saat laut rusak, maka yang hancur bukan hanya sumber penghidupan, tapi juga *warisan kehidupan.* Jika hari ini laut dikeruk habis, apa yang akan diwariskan kepada anak cucu kita? Bukan ikan, bukan rumput laut, bukan terumbu karang—tapi *kehampaan dan krisis ekologi.*
*Penegak Hukum, Jangan Menjadi Penonton*
Ironisnya, keberadaan porsen bukan hal baru. Sudah lama berkeliaran di perairan Kangean, dan sudah lama pula keluhan masyarakat menggema. Namun, sampai hari ini, *penegakan hukum masih seperti menutup mata.* Kita tidak butuh janji, kita butuh aksi. Kita tidak ingin aparat menjadi penonton, tapi pelindung laut dan rakyatnya.

Di tengah seruan keberlanjutan, di mana pemerintah pusat gembar-gembor soal blue economy dan konservasi laut, mengapa perairan kecil seperti Kangean justru dibiarkan menjadi korban? Apakah laut di kepulauan hanya dianggap halaman belakang republik ini?
*Saatnya Bangkit dan Menjaga Laut Kita*
Kami, masyarakat pesisir, tidak anti terhadap kemajuan. Tapi kami menolak perusakan. Kami ingin hidup berdampingan dengan laut, bukan membunuhnya secara perlahan. Untuk itu, kami menyerukan:
*Pertama, Tindakan tegas dari aparat penegak hukum* terhadap kapal porsen yang masuk tanpa izin.
*Kedua. Pengawasan aktif dari pemerintah daerah dan pusat* terhadap aktivitas perikanan destruktif.
*Ketiga. Pemberdayaan nelayan lokal* agar bisa tetap hidup dengan cara yang ramah lingkungan.
Laut adalah warisan. Dan *warisan bukan untuk dijual habis-habisan,* tapi dijaga, dilindungi, dan diwariskan dalam keadaan lebih baik. Bila hari ini kita diam, maka kelak anak cucu kita akan mengutuk kita bukan karena kita miskin, tapi karena kita berpaling saat warisan mereka dirampas.
Oleh: Hariyanto, S.Pd – Pemerhati Sosial Kepulauan












