JAWA TIMURSumenep

Alun-Alun Arjasa: Menanti Cahaya dari Pemerintah Daerah

270
×

Alun-Alun Arjasa: Menanti Cahaya dari Pemerintah Daerah

Sebarkan artikel ini

Bayangkan suasana malam di Kepulauan Kangean yang sejuk dan tenang. Di tengah keramaian kecil yang khas, berdiri Alun-Alun Kecamatan Arjasa—ruang publik yang menjadi pusat denyut aktivitas masyarakat. Tapi sayangnya, suasana itu belum seindah yang kita harapkan.

Memang, satu-satunya cahaya yang bisa dinikmati saat malam hanyalah berasal dari lampu di tengah alun-alun, *hasil CSR dari Bank Jatim.* Cahaya itu menjadi penanda bahwa harapan belum sepenuhnya padam. Namun ironisnya, di *sekeliling alun-alun justru masih gelap* , seakan dibiarkan sepi dari sentuhan estetika dan perhatian pemerintah.

Di tengah semangat membangun dan slogan-slogan “Sumenep menuju kemajuan”, kami di kepulauan ini bertanya dalam diam: *mengapa keindahan hanya berhenti di daratan?*

*Alun-Alun Arjasa Bukan Sekadar Lapangan*

Alun-alun bukan sekadar ruang kosong. Ia adalah *simbol kehadiran negara* , ruang kebersamaan masyarakat, tempat bernaungnya interaksi sosial, budaya, dan ekonomi. Di sanalah anak-anak berlarian, orang tua bersantai, dan berbagai kegiatan komunitas hidup. Maka menjadi sangat disayangkan jika tempat sentral seperti ini masih dibiarkan tanpa pencahayaan memadai— *gelap di tepian, padahal terang di harapan.*

Kami tidak mengharap megah. Kami hanya ingin layak dan terang, seperti alun-alun lainnya di pusat kabupaten.

*Kangean Butuh Sentuhan, Bukan Sekadar Slogan*

Di kota, lampu-lampu taman gemerlap. Ruang terbuka dipercantik. Infrastruktur dipercanggih. Tapi di Kangean, kami masih berjuang mendapatkan *lampu taman sederhana* yang mengelilingi alun-alun—hal yang seharusnya menjadi kebutuhan dasar ruang publik, bukan kemewahan yang sulit dijangkau.

Kami ingin pemerintah kabupaten *tidak hanya membenahi kota, tetapi juga menengok pulau* . Kangean bukan pelengkap, tetapi bagian utuh dari Sumenep yang pantas mendapatkan porsi pembangunan yang adil.

*Pak Camat, Sampaikan Isi Hati Kami*

Kami titip harapan ini kepada Bapak Camat Arjasa, agar menjadi *penyambung lidah masyarakat kepulauan* . Sampaikan bahwa kami mendambakan alun-alun yang asri, terang, dan nyaman. Bukan alun-alun yang hanya hidup di siang hari, lalu mati dalam gelap saat malam datang.

Kami percaya, pembangunan tidak akan adil jika tidak menjangkau seluruh pelosok, termasuk kepulauan. Kami percaya, cahaya pembangunan seharusnya tidak padam saat melewati laut.

*Kami Ingin Alun-Alun Kami Bersinar*

Kami ingin cahaya itu tak hanya di tengah, tetapi *mengelilingi seluruh alun-alun,* menandakan bahwa keindahan itu merata. Karena bagi kami, *lampu-lampu itu bukan hanya penerang malam, tapi simbol perhatian dan keadilan.*

Sudah saatnya cahaya pembangunan menjangkau seluruh penjuru Kangean. Karena kami pun bagian dari Indonesia yang ingin hidup dalam terang—bukan hanya secara fisik, tetapi juga dalam perhatian dan keadilan.


Oleh: Hariyanto, S.Pd — Pemerhati Sosial Kepulauan